Sabtu, 01 April 2017

wam yabu eruwok kinaonak



BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Ternak babi merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan data peternakan tahun 2010, populasi ternak babi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 1,637,351ekor, Bali (930,465 ekor), Sumatera Utara (734,222 ekor), Sulawesi Selatan (549,083 ekor), Kalimantan Barat (484,299 ekor), Papua (546,696 ekor), Sulawesi Utara (332 ,942 ekor). Dengan data ini ketersediaan akan daging di Indonesia masih sangat rendah, sehingga dipenuhi dengan cara  impor. Diharapkan  dengan manajemen pemeliharaan ternak babi yang baik bisa menopang kebutuhan akan ketersediaan daging. Menurut Parwati (2000), Kebutuhan akan protein hewani masyarakat di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan yang bersumber dari protein hewani, sehingga usaha ternak babi mempunyai peranan yang cukup besar dalam mensuplai kebutuhan daging walaupun dengan keterbatasan konsumen serta dapat mendorong semakin potensialnya peternakan babi di Indonesia (Anonimus, 2003).
Babi Duroc memiliki sifat prolifik, yakni banyak anak dalam satu kali kelahiran. Jumlah anak yang dilahirkan berkisar antara 8 – 14 ekor dalam satu kelahiran dengan rata – rata 2 kali kelahiran per tahun. Babi dara dapat dikawinkan pada umur 8 bulan, beranak pada umur 1 tahun dan anak – anaknya dapat mencapai berat ± 100 kg pada umur 5 – 6 bulan bila dipelihara pada keadaan sehat ( Anonimus, 2011). Keberhasilan  suatu usaha peternakan dapat dipengaruhi oleh faktor bibit dan manajemen pemeliharaan ternak. Faktor bibit yaitu bangsa ternak itu sendiri sedangkan faktor manajemen pemeliharaan meliputi : pemberian pakan dan minum, kandang, sanitasi dan kesehatan ternak, recording, serta kastrasi. 
Pakan ternak merupakan salah satu faktor penting dalam usaha ternak babi. Manajemen pemberian pakan pada babi periode starter dan grower harus benar-benar diperhatikan karena pada usia ini ternak babi mengalami pertumbuhan yang pesat. Oleh karena itu suatu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa walaupun babi itu secara alamiah tergolong hewan yang makannya sangat rakus, dan suka makan apapun, namun mereka perlu diberi makanan dengan perhitungan yang betul. Sehingga apabila pemeliharaannya baik, laju pertumbuhannya pun akan baik pula.
Kandang yang baik adalah kandang yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi hewan ternak yang ada di dalamnya. Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atau Homeoterm, yakni mekanisme fisiologisnya selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok baginya (Sihombing, 2006). Pada dasarnya, kandang dan peralatan harus menyenangkan dan melindungi ternak babi. Lagi pula kandang dan peralatan yang disediakan harus seefisien mungkin menggunakan tenaga dan waktu pemeliharaan untuk memberi makan, membersihkan dan kegiatan lain memelihara ternak.
            Sanitasi harus dilakukan terhadap kandang dan peralatan selama pemeliharaan, selain itu sanitasi dapat dilakukan dengan menggunakan disinfektan, dengan cara menyemprotkan bahan-bahan kimia sesuai dengan sasarannya. Apalagi yang baru datang, sebelum ternak dimasukan kedalam kandang yang pernah dipakai, sebaiknya didisinfeksi lebih dahulu untuk meminimalkan kemungkinan penyakit. Terlebih induk yang akan melahirkan, kandang untuk melahirkan harus didisinfeksi sebelun induk yang akan melahirkan dimasukan dalam kandang, sehingga bebas dari telur-telur cacing dan mikroba berbahaya lainnya (Sihombing, 2006). Kandang dijaga tetap kering dan selalu dibersihkan dari kotoran, sehingga memberi kenyamanan bagi ternak (Williamson and Payne, 1993).
Recording pada ternak babi  juga sangat dibutuhkan, dengan tujuan untuk menentukan jumlah pakan yang harus diberikan pada masing-masing babi dan juga babi mudah mununjang program seleksi. Kegunaan recording ini tidak hanya untuk mengetahui berapa besar produksi anak yang dihasilkan dari seekor ternak baik kuantitatif maupun kualitatif, tetapi juga untuk mengetahui kelompok babi mana yang mempunyai mutu genetik baik. Anak babi jantan yang tidak dipakai bibit biasanya dikastrasi oleh karena akan mengurangi pengelolaan dan mencegah perkawinan yang tidak diinginkan. Kastrasi akan mengurangi konversi makan pada babi. Makin mudah dikastrasi makin gampang pelaksanaanya dan dilakukan biasanya 7 – 10 hari sebelum penyapihan. Hal ini akan membuat babi sudah sembuh pada waktu disapih (Williamson dan Payne, 1993).


1.2       Rumusan Masalah
Masalah dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan (PKL) ini adalah bagaimana manajemen pemeliharaan ternak babi Duroc milik Bapak Yudi agar mendapat hasil yang optimal. Manajemen pemeliharaan tersebut meliputi kandang, pakan, sanitasi dan kesehatan ternak, kasratasi dan recording pada Usaha Peternakan di Desa  Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.
1.3       Tujuan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini, bertujuan untuk mengetahui manajemen pemeliharaan ternak babi Duroc pada usaha  peternakan babi Duroc di Desa Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.
1.4        Manfaat
Hasil  praktek kerja lapangan (PKL) ini diharapakan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi peternak maupun  yang ingin  mengembangkan  usaha dalam peternak dalam hal manajemen pemeliharaan ternak babi, menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa tentang manajemen pemeliharaan ternak babi Duroc.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1       Bangsa Duroc
Bangsa babi Duroc berasal dari bagian Barat laut Amerika Serikat dari galur babi merah yang dikembangkan di New York  dan New Jersey. Babi yang di New Jersey aslinya disebut babi Jersey Reds; babi yang di New York konon dikembangkan oleh seseorang yang memiliki kuda terkenal bernama Duroc, dan penduduk sekitarnya menyebut babi merah atau Duroc. Setelah beberapa tahun peternak tersendiri, babi-babi tersebut dicampur-baur dan mengakibatkan bangsa babi yang hingga belum lama ini dikenal dengan Duroc-Yersey. Kini bangsa babi tersebut  dikenal sebagai Duroc. Babi unggul yang berasal dari luar negeri tersebut antara lain American Landrace, Duroc, Berksjire, Poland China, dan Yorhshire Sus verrucosus  (Evans, 1918).
Bangsa babi Duroc warnanya merah  mulus tanpa ada campuran lain. Namun  beberapa diantaranya merah gelap dan beberapa ada juga merah muda. Bangsa babi ini terkenal tubuhnya padat dan prolifik. Dapat di lihat pada gambar 1.
Klasifikasi ternak babi adalah sebagai berikut (Banerjee, 1985) :
Kingdom      : Animalia
Phylum         : Chordota
Kelas            : Mamalia
Ordo            : Artiodactyla
Famili           : Suidae
Genus           : Sus Linn
Spesies         : Sus scofaferus
                      Description: P1110882
                            Gambar1. Babi Duroc (Sihombing, 1997)
            Babi siap potong berbobot 90 kg dapat dicapai pada usia 6 bulan atau lebih.  Babi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase starter, babi umur 13 sampai 20 minggu dengan berat badan 15 sampai 35 kg, fase grower, yaitu babi yang berumur 20 sampai 28 minggu dengan berat badan 35 kg sampai 60 kg dan fase finisher, babi umur 24 sampai 36 minggu dengan berat badan 60 kg sampai 90 kg (Souland, 2009), babi jantan dewasa berbobot sekitar 275-320 kg. Dalam beberapa hal, bobot yang lebih tinggi  dapat dicapai yaitu dengan pemberian pakan yang teratur dan bernilai gizi tinggi. Babi Duroc merupakan jenis babi yang unggul, karena jumlah kelahirannya sangat tinggi. Babi Duroc sekali beranak kira-kira 8-12 ekor anak yang dilahirkan dan juga pertumbuhan babi Duroc ini sangat cepat. Produksi daging tinggi dan tebal dengan kandungan lemak  sedikit (Sihombing, 2006).

2.2      Sistem Perkandangan
 Kandang merupakan salah satu unsur penting dalam suatu usaha peternakan, terutama dalam ternak babi. Bangunan kandang yang baik harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan kandang diupayakan pertama-tama untuk melindungi babi terhadap gangguan dari luar yang merugikan, baik dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan tiupan angin kencang. Selain itu, kandang juga harus bisa menunjang peternak dalam melakukan kegiatannya, baik dari segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Kandang berfungsi sebagai lokasi tempat pemberian pakan dan minum. Dengan adanya kandang, diharapkan babi tidak berkeliaran di sembarang tempat, mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin. Sebab hanya kandang yang baiklah yang akan mampu: meningkatkan koversi makanan; meningkatkan pertumbuhan dan menjamin kesehatan ternak (Anonimus, 1981).
Jenis kandang terdiri dari jenis kandang tunggal dan ganda, jenis kandang  tunggal adalah: Kandang yang terdiri satu baris memanjang yang dipetak-petak. Jenis  kandang ganda adalah : Kandang yang terdiri dari dua  baris yang letaknya saling berhadapan atau mempunyai jalan ditengah untuk dapat memberikan pelayanan dan perawatan terhadap ternak babi (Souland, 2010).

Ukuran dan tipe kandang bervariasi sesuai dengan kebutuhan ternak dan tujuan pemeliharaan. Berikut merupakan uraian dari ukuran dan tipe kandang. Ukuran kandang ternak babi panjang, lebar, dan tinggi adalah :
1)              Kandang pejantan ukurannya 3 m x 3 m x 1,75m, lantai dan dindingnya terbuat dari campuran semen, pasir dan batu bata, merupakan kandang individu.
2)              Kandang babi dara ukurannya 3m x3m x 1m, terbuat dari campuran semen, pasir dan batu bata, merupakan kandang kelompok.
3)              Kandang induk bunting ukurannya 1m x 2m x 1m, terbuat dari campuran semen, pasir dan batu bata, merupakan kandang individu.
4)              Kandang induk menyusui ukurannya 1,5 m x 2 m x 1m, kandangnya terbuat dari batang besi yang di las dengan alas besi, kandangnya menyerupai keranda dan terbagi dalam 3 sekatan, tengah untuk induk sedangkan yang pinggir untuk anaknya, agar bebas bergerak dan terhindar dari tindihan atau injakan induk.
5)              Kandang sapih atau starter 3m x 3m x 1m, kandangnya ada yang terbuat dari coran semen, ada juga yang terbuat dari batang besi beton yang di las menyerupai panggung, merupakan kandang kelompok.
6)              Kandang grower 3m x 3m x 1m, lantai dan dindingnya terbuat dari campuran semen, pasir, dan batu bata, merupakan kandang kelompok.
7)              Kandang finisher 1m x 50 cm x 50cm, rancangan kandangnya terbuat dari bilah-bilah besi yang menyerupai keranda dan alas lantai yang dibuat miring, dan merupakan kandang individu
8)              Kandang babi induk bunting (yang akan beranak); kandang ini berukuran 3 x 2 m.
Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atau homeoterm, yaitu mekanisme fisiologisnya selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang cocok baginya. Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak Babi juga merupakan ternak yang membutuhkan tempat untuk berlindung. Tempat atau kandang untuk peternakan Babi harus dibuat senyaman mungkin. Apabila manusia juga sudah merasa nyaman dikandang peternakan Babi yang telah dibuat maka bisa dipastikan bahwa ternak babi juga pasti akan merasa nyaman didalam kandang tersebut. Mengapa kandang harus dibuat senyaman mungkin adalah agar produksinya bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh peternak. Hal ini mungkin juga akan mengubah tingkah laku ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produksi, reproduksi maupun kesehatan ternak (Sihombing, 2006).
Kandang dibangun dengan arah timur barat, dengan tujuan agar kandang terkena sinar matahari pada pagi dan sore hari. Bahan pembuatan kandang yaitu dengan menggunakan campuran pasir, batu bata, dan semen, sedangkan atap terbuat dari genteng dan asbes bergelombang. Lantai kandang dikenal 2 tipe lantai, yaitu 1. lantai polos (solid floor) atau plesteran dan 2. lantai berbilah (slotted floor) yang terbuat dari batangan-batangan coran, aluminium, logam berlubang-lubang fiberglas atau plastik. Umumnya dinding kandang atau batas petak kandang babi di daerah tropis berkisar 90-110 cm, kecuali kandang babi pejantan dan karantina atau babi sakit perlu setinggi 125 cm, sedangkan dinding kandang babi sapihan cukup 75 cm, dan batas pemisah kandang cukup 50 cm ( Sihombing, 2006).
Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia lebih sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropics atau daerah beriklim dingin. Suhu di Indonesia 27,2° C, namun suhu di berbagai daerah berbeda, tergantung dari letak geografis, ketinggian tempat, kelandaian, sinar, angin, hujan, dan kelembaban.Suhu atau temperature lingkungan mikro harus dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi makanan biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut mengakibatkan gangguan produksi. Suhu lingkungan yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan babi berbeda. Temperatur  yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26° C (Sihombing, 2006).

2.3        Pakan
 Pakan merupakan salah satu faktor penting di dalam usaha ternak babi. Secara alamiah babi rakus makan, bahkan apapun, hampir tidak ada yang ditolak. Peternak yang baik harus dapat menyajikan pakan yang tepat, karena dengan pemberian pakan yang baik akan mempercepat pertumbuhan. Pakan yang baik, tepat atau memenuhi syarat adalah sangat penting; akan tetapi untuk menyusun ransum semacam ini tentu saja relatif lebih mahal. Bahkan kadang-kadang bisa mencapai 80% dari seluruh pembiayaan. Oleh karena itu di dalam hal ini kita harus ulet, bagaimana kita bisa memberikan pakan dengan bahan-bahan yang mengandung zat-zat  yang diperlukan, yang terdapat di lingkungan di mana kita beternak, dan secara ekonomis masih menguntungkan.
Mengingat bahwa sistim alat pencernaan babi sederhana, bukan seperti  binatang memamah biak, maka babi tidak boleh diberi pakan  yang kandungan serat kasarnya banyak, sehingga tidak bisa dicerna. Oleh karena itu pakan pokok babi adalah pakan penguat. Pakan  penguat yang bisa diberikan kepada babi antara lain adalah: bekatul, bungkil kelapa, ampas tahu, tepung ikan, dls. Bahan-bahan tersebut harus mengandung zat-zat atau unsur-unsur yang diperlukan babi (Blakely and Bade, 1991).
Pemberian pakan yang semestinya merupakan hal yang sangat penting sebab biaya pakan menduduki tempat tertinggi dari ongkos produksi total yang kadang – kadang meliputi 80%, ini disebabkan babi tumbuh sangat cepat dan konsekuensinya keperluan akan pakan sangat tinggi. Anak babi yang beratnya 1,4 kg pada waktu lahir mencapai 163 kg setelah 18 bulan kemudian. Bila babi diberi pakan berlebihan maka cenderung menjadi gemuk dengan cepat dan sifat ini adalah menurun, hal ini juga tidak ekonomis ( Williamson, 1993 ).
Creep feeding adalah cara pemberian makanan pada anak babi terpisah dari makanan induknya. Creep feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka dalam bentuk pellet atau butir – butiran. Anak babi yang berusia 1 bulan masih menyusui, disamping menyusui anak babi juga mengonsumsi pakan. Pemberian pakan untuk babi fase prestarter sudah sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh yaitu pemberian menggunakan Creep feeding (Pakan komplit butirat). Setelah 1 bulan pemberian pakan B1 CP 550 anak babi akan disapih dan pakannya juga diganti B2 CP 551, pakan komplit butirat ( Starter ) dan B1 CP 550.
 Creep feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka dalam bentuk pellet atau butir – butiran. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. (Williamson and Payne, (1993)
Tabel 1.  Zat-zat yang terkandung di dalam bahan makanan
Bahan makanan
Air
%
Protein kasar
%
Lemak kasar%
Serat kasar
 %
Ca
%

P
%

Hindrat arang
%
Kaya protein
Tepung ikan

8,5

53,3

6,5

1,5

10,5

5

49
Susu skim (powder)
8
33
1
0
1,3
0,9
68
Bungkil kedelai
9,5
48,5
1
6,5
0,4
0,7

69
Bungkil kelapa
9
19,5
7,5
13
0,2
0,5
73
Biji-bijian
Jagung jagung

12

8,5

4,5

3

0,05

0,3

80
Jagun  putih 
11,5
9
4,5
2
0,1
0,3
81
Katul no. 1
10
13,5
16,5
7
0,15
1,9
60
Katul no. 2
9,5
8
6
20,
0,25
1,9
29
Lain- lain
Tepung daun
lamtoro
Tepung  kerang
Gula



8,5
-
-


19,5
-
-


3
-
-


11
-
-


1,9
24,5
-


0,2
-
-


45
-
76
 ( Anonimus, 2011 )

Tabel 2. Jenis dan keperluan pakan berbagai fase babi             
 Keterangan
 Starter %
 Grower %
 Fattening %
 Lactasi
 Bibit
 1. Jagung
 35 – 60
 25 - 60
 25 -60
 20 - 50
 15 – 40
 2. Katul
 -
 0 - 10
 0 - 25
 10 - 15
 0 – 15
 3. Tepung ikan
 5 – 10
 5 - 20
 -
 5 -10
 2 – 10
 4. Dedak gandum
 -
 5 - 10
 0 - 15
 10 -  25
 10 - 30
 5. Susu skim  (Powder)
 0 – 20
 -
 -
 -
 -
 6. Tepung tulang
 -
 0 - 5
 2 - 7
 0 -5
 0 – 5
 7. Bungkil kedelai
 5 – 15
 2 - 10
 2 - 5
 5 - 10
 2 – 7
 8. Bungkil kelapa
 -
 0 -3
 2 - 7
 0 - 7
 0 – 7
 9. Tepung daun  lamtoro
 0 – 3
 5
 5
 5
 5
 10. Mellase
 0 – 3
 5
 5
 5
 5
 11. Mineral
 1
 1,5
 1,5
 1,5
 1,5
 12. Gula
 0 – 10
 -
 -
 -
 -
 13. Vitamin
 -
 -
 -
 -
 -
 14. Antibiotic
 -
 -
 -
 -
 -
 Protein kasar
 19
 16
 14,5
 18,5
 14,5
 Serat kasar
 4
 6
 6
 7
 8,5
( Anonimus, 2011 )



2.4       Recording Ternak
Recording  adalah  pencatatan yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipercaya serta selalu aktual tiap hari. Dalam usaha peternakan banyak sekali komponen recording yang harus  mendapat perhatian antara lain : jumlah populasi, jumlah pemberian pakan, jumlah produksi harian yang dihasilkan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat kematian (mortalitas) ternak yang dipelihara, penyakit yang menyerang, riwayat kesehatan (medical record), obat yang dibutuhkan, serta vaksinasi yang dibutuhkan lainnya. Intinya semakin banyak pencatatan yang dilakukan akan semakin baik manajemen usaha yang di jalankan (Angga,  2010).
      Kegunaan recording :
1.     Mengetahui jumlah populasi akhir. Ini perlu karena bagaimanapun letak keuntungan ditentukan oleh jumlah populasi akhir. Dengan diketahuinya papulasi akhir kita juga akan mengetahui jumlah ternak yang mati, hilang dan sebagainya selama masa pemeliharaan.
2.     Untuk bahan pertimbangan dalam penilaian tata laksana yang sedang   dilaksanakan. Seperti tingkat pertambahan berat badan (PBB), Feed Consumtion Rate (FCR), jumlah produksi, kesehatan ternak.
3.     Mempermudah peternak melakukan evaluasi, mengontrol dan memprediksi tingkat keberhasilan usaha
4.     Bagi perguruan tinggi data recording bisa sebagai bahan penelitian (Anderson, 2000)

2.5       Sanitasi Dan Kesehatan Ternak
Dalam suatu usaha peternakan babi, kembersihan kesehatan dan pengendalian penyakit tidak dapat diabaikan dan faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha ternak tersebut. Pada usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan pembersihan kandang dan penanganan limbah. Menurut Seregar (2000), kebersihan kandang harus selalu dijaga, kotoran babi harus dibuang pada tempat yang telah disediakan. Genangan-genangan air dalam kandang harus dikeringkan dan diupayakan tidak ada lalat atau serangga lainnya yang dapat menganggu babi dalam kandang.
            Sanitasi adalah suatu kegiatan yang meliputi kebersihan kandang dan lingkungannya, karena dengan keadaan kandang serta lingkungan yang bersih, kesehatan ternak maupun pemiliknya akan terjamin. Kebersihan kandang bisa diatur sesuai dengan kebutuhan sehingga lingkungan tidak bau dan lembab (Anonimus, 1991).
Sanitasi dan kesehatan ternak merupakan suatu faktor yang perlu diperhatikan. Penyakit juga dapat mengakibatkan kematian pada ternak apabila tidak ditangani dengan serius. Keadaan kandang harus dijaga bersih, kering, dan suhunya diatur agar anak babi dan induknya nyaman. Sanitasi dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kandang, peralatan dan ternak serta tidak menggunakan disinfektan untuk menyucihamakan kandang dan perlatan terhadap babi maupun kandangnya. Terhadap ternak babi kita harus memandikan babi setiap hari 1-2 kali sehari. Sebab bila kulit babi kotor, yakni akibat andanya kotoran dari luar (debu, kotoran sendiri) yang melekat pada kulit, lama-kelamaan menjadi daki yang bisa menutup pori-pori. Sehingga kulit tidak bisa mengatur panas tubuh dan daki menjadi tempat yang digemari oleh bermacam-macam bakteri dan paransit, sehingga menimbulkan perasaan gatal. Karena gatal, kulit digosok-gosokan sehingga terjadi luka penyakit kulit. Mamandikan babi berarti memelihara kulit atau kesehatan babi secara baik. Dengan demikian memandikan dan membersihkan kandang mutlak dilakukan (Aritonang, 1993 ).
Kandang harus selalu dibersihkan dinding digosok atau disemprot dengan disinfektan secara periodik agar kotoran atau debu-debu yang melekat dan kuman-kuman beserta parasit yang berserang di dalamnya bisa bersih dan tak akan menganggu penghuni kandang babi (Williamson and Payne, 1993).
Pencegahan penyakit pada babi Duroc dapat dilakukan dengan cara vaksinasi dan sanitasi. Vaksin dilakukan dengan tujuan memberikan kekebalan pada tubuh ternak babi dari serangan penyakit. Pencegahan penyakit pada ternak babi melalui program vaksinasi harus mendapat perhatian dan prioritas utama, kelengahan vaksinasi dapat berakibat fatal, ternak babi dapat terserang penyakit tertentu yang mungkin sulit untuk diatasi. Periode yang sangat perlu diperhatikan sehubungan dengan kepadatan anak babi adalah saat kritis pada umur minggu pertama dan minggu kedua hilangnya anti bodi dari induk. Karena itu peternak harus waspada dan siap memberikan pertolongan bila penyakit datang menyerang  (Anonimus, 1980).

2.6       Kastrasi (Pengebirian)
Kastrasi ialah melakukan pemotongan testes dan mematikan sel-sel jantan untuk memperoleh pertumbuhan yang cepat dan kualitas daging yang baik, maka semua babi jantan harus dikstrasi. Biasanya kastrasi ini dilakukan pada saat babi berumur 4 minggu. Kastrasi yang dilakukan lebih awal akan lebih baik daripada babi yang besar, karena babi yang besar akan mengalami stress yang berat (Williamson and Payne, 1993)
  Tujuan kastrasi yaitu:
1.          Untuk mempertahankan kualitas daging. Sebab babi yang dikastrasi dagingnya akan lebih bagus, dan penimbunan daging dan lemaknya lebih cepat.
2.           Agar pejantan yang tidak dipergunakan lagi untuk bibit atau pemacek, dagingnya tidak berbau.
3.           Untuk menghindari babi jantan yang berkualitas jelek mengawini calon-calon babi induk yang bagus.
4.          Untuk menjinakkan babi jantan yang mempunyai sifat buas atau kanibalis (Williamson and Payne, 1993)
Kastrasi dilakukan dengan dua cara yaitu: cara tertutup dan cara terbuka  (Bundy and Diggins, 1968)      
1.     Kastrasi dengan cara tertutup yaitu pengebirian dengan cara mengikat (menutup) saluran yang menuju testes, sehingga sel-sel jantan mati, karena tidak memperoleh zat-zat makanan. Hal ini dapat pula dilakukan dengan jalan memberi zat kimia yang bisa mematikan sel jantan atau betina dengan jalan injeksi.
2.     Kastrasi dengan cara terbuka yaitu dengan jelas melakukan pembedahan scrotum dan mengeluarkan testes yang kemudian dipotong.
 Cara melakukan kastrasi pada anak babi jantan (Williamson and Payne, 1965)
Pelaksanaan pengembirian pada babi jantan sebagai berikut:
1.      Scrotum ditekan dengan ibu jari kiri ke atas dan telunjuk ke bawah dengan maksud supaya mudah dibedah dengan pisau tajam atau dengan silet.
2.      Kedua : kantong (selaput) testes yang berwarna putih dipotong atau dibedah, guna mengeluarkan testesnya. Kemudian bila testes itu ditekan maka keluarlah testes tersebut.
3.      Ketiga : testes yang sudah keluar dipotong pada saluran penggantungnya. Bagi babi dewasa, sebelum saluran testes dipotong, terlebih dahulu diikat dengan benang yang kuat supaya darah tidak mengalir ke luar.
4.      Keempat : bekas luka harus diobati dengan yodium, atau sulfanilamide guna mencegah infeksi atau tetanus.
5.     Untuk mencegah dan mempercepat sembuhnya luka akibat bekas potongan tersebut sebaiknya dijahit, terkecuali babi yang berumur 4 – 5 minggu tidak dijahit  ( Sinaga, 2010).

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1     Waktu Dan Lokasi kegiatan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapanagan (PKL) dimulai 2 Februari sampai 1 Maret 2012 pada usaha peternakan babi Duroc di Desa Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.

3.2       Khalayak Sasaran
Khalayak sasaran pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah usaha peternakan babi Duroc milik Bapak Yudi di Desa Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dengan populasi babi 3000 ekor.
3.3       Materi
Materi pada  Praktek Kerja Lapang ini adalah 3000 ekor babi Duroc periode starter sampai  finisher, peralatan  yang digunakan meliputi tempat pakan, tempat minum, penghangat, selang air, dan papan recording.
3.4       Metode
Metode yang dilaksanakan pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah:  observasi   dengan melakukan pengamatan langsung di lokasi PKL, serta melakukan wawancara dengan peternak ataupun dengan  karyawan tentang perkandangan pemberian pakan dan minum, ,sanitasi dan kesehatan, kastrasi, dan recording.

3.5       Analisis Hasil Kegiatan
Parameter yang diamati adalah manajemen pemeliharaan ternak babi Duroc yang meliputi : Perkandangan, pemberian pakan dan minum, sanitasi dan kesehatan, recording dan kastrasi.

BAB IV
HASIL DAN EVALUASI KEGIATAN
4.1       Gambaran Umum Peternakan
            Pada mulanya peternakan babi Duroc ini adalah milik Bapak Yudi yang dimulai pada tahun 1975. Peternakan ini bukan diawali dengan usaha sampingan, tetapi memang sudah ada perencanaan. Pada awal pemeliharaan ternak babi berjumlah 100 ekor, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi, serta budaya, maka menuntut kebutuhan hidup yang lebih besar. Seiring dengan berjalannya waktu usaha peternakan ini semakin maju.
Setelah beberapa tahun berjalan Bapak Yudi mengalami kebangkrutan, karena adanya flu babi yang begitu meluas di seluruh dunia. Mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat untuk membeli babi dari tempat ini. Kemudian usaha peternakan ini diteruskan oleh salah satu kerabatnya (Bapak Yudi),  dengan cara membantu menginvestasikan modal dari hasil dari usaha itu, sehingga mampu membawa kemajuan yang baik pada usaha peternakan ini.
Peternakan babi Duroc ini merupakan usaha babi pedaging yang khusus untuk memproduksi daging. Peternakan ini berlokasi di Desa Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dengan luas areal 2 hektar. Peternakan milik Bapak Yudi terletak di dataran tinggi dan dikelilingi oleh sawah dan tanaman hortikultural. Jumlah populasi ternak babi kurang lebih 3000 ekor, masing-masing terdiri dari 150 ekor jantan dan 300 ekor betina, dan sisanya 1550 ekor terdiri dari prestarter sampai finisher serta ternak yang masih dalam kandang karantina.
Selain memproduksi daging yang baik, ternak babi juga mempunyai hasil ikutan berupa kotoran yang dapat diolah menjadi kompos sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar dan dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanah dan tanaman. Lokasi perkandangan dibangun dekat jalan raya namun  bukan jalan utama sehingga suasana disekitar tidak terlalu ramai atau bising, memudahkan dalam hal transportasi dan babi lebih tenang terhindar dari stres. Sesuai dengan teori yang dipelajari maka daerah ini cocok untuk usaha peternakan babi, hal ini dilihat dari usaha peternakan yang strategis dan mudah dalam pemeliharaan.

4.2       Sistem Kandang
Kandang pada lokasi Praktek Kerja Lapangan diantaranya kandang saling berhadapan, saling membelakangi dan kandang searah. Kandang saling berhadapan merupakan kandang yang dibangun dengan satu jalan pada tengah kandang dan dua saluran pembuangan. Kandang saling membelakangi merupakan kandang yang dibangun dengan dua jalan dan satu saluran pembuangan. Kandang searah merupakan kandang yang dibangun dengan satu jalan dan satu pembuangan.  Sistem kandang yang di terapkan pada lokasi PKL,  sesuai dengan pendapat (Souland, 2010) yaitu membangun kandang tunggal dan ganda agar mempermudah dalam pelayanan dan perawatan.
Usaha ternak yang akan menghasilkan anak babi serta pengemukan (yakni usaha mulai dari menghasilkan anak sampai dipasarkan), satu system siklus  hidup dianjurkan terutama untuk suatu usaha proyek berskala besar. Untuk hal ini harus direncanakan kandang dan peralatan yang memenuhi kebutuhan ternak untuk berbagai fase siklus hidup ternak. Perkandangan yang cocok dengan system peternakan seperti ini terdiri dari 5 fase hidup ternak babi yang diuraikan berikut ini.
1.     Unit kandang babi bibit (Breeding). Kandang ini diperuntukkan bagi induk kering-susu dan induk bunting, pejantan dan calon induk dan pejantan.
2.     Unit kandang babi sapihan (Weaning). Unit kandang ini disediakan bagi pengasuhan anak babi sapihan hingga mencapai umur 10-12 minggu.
3.     Unit kandang pertumbuhan (Growing). Unit kandang ini disediakan bagi babi setelah keluar dari unit kandang pengasuhan untuk selama 6-8 minggu berikutnya.
4.     Unit kandang pengakhiran (finishing).unit kandang ini diperuntungkan setelah dari unit pertumbuhan hingga mencapai berat. Tidak jarang dipersatukan unit pembesaran dengan unit pengakhiran.
5.     Unit kandang induk melahirkan (Farrowing). Unit kandang ini disediakan untuk induk melahirkan dan mengasuh anak  hingga anak babi disapih.
Untuk usaha ternak babi dari menghasilkan anak hingga dipasarkan skla kecil disarankan mendirikan system 2-unit kandang. Kandang tersebut adalah satu unit pusat bibit yang menampung semua induk dengan pelbagai fase reproduksi (misalnya fase kering susu, bunting, melahirkan dan menyusukan anak), pejantan dan calon bibit; dan satu unit pembesaran dengan pengakhiran bagi anak babi lepas sapih, pembesaran dan pengakhiran.
Menurut kegunaannya, kandang babi bisa dibangun sesuai dengan fase hidup babi dan tujuannya dimana babi hendak ditempatkan, dengan ukuran dan perlengkapan yang berbeda-beda.
a.      Kandang babi induk bunting (yang akan beranak); kandang ini berukuran 3 x 2 m.
b.      Kandang untuk starter dengan ukura panjang 2  m  dan lebar 2,5 m.
c.      Kandang babi penjantan kandang ini berukuran sama dengan babi induk bunting: 3 x 2 m, dan lebih kuat
d.     Kandang babi grower kandang ini berukuran 3 x 2, 5 m, yang bisa menampung  babi 6 ekor; berarti setiap ekor babi memerlukan ±1 m2 .kandang ini lebih sederhana daripada yang diperuntukan babi induk.
e.       Kandang ini setiap ruang tidak akan diisi lebih dari 12-15 ekor babi.
       Kandang babi karantina, yakni untuk mengisolir babi-babi yang               menderita, terlebih-lebih penyakit menular, ukurannya 3m x 3m.
            Pada ukuran kandang induk bunting di lokasi PKL, belum sesuai dengan teori menurut yang mengatakan bahwa Babi-babi yang sedang bunting perlu diberi ruang gerak. Sebab babi yang jarang bergerak, badannya terlampau gemuk. Hal ini akan mengakibatkan peredaran darah kurang lancar, sehingga menimbulkan kesulitan di dalam melahirkan dan anak yang dilahirkan menjadi lemah. Sedangkan ukuran kandang pada babi finisher dibuat sempit, dengan tujuan agar babi cepat gemuk.
Lantai pada setiap kandang dibuat miring, dengan tujuan agar kotoran mudah mengalir saat dibersihkan. Atap pada setiap kandang terbuat dari genteng dan asbes bergelombang, karena lebih tahan lama. Saluran pembuangan pada sertiap kandang disatukan pada satu tempat pembuangan terakhir yang merupakan tempat pembuatan kompos (Anonimus, 2010).
Temperatur lingkungan usaha peternakan di lokasi berkisar 26°C – 32°C dengan kelembaban udara berkisar 70 – 80%.  Temperatur  yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone termonetral, yakni berkisar antara 20-26°C). Sehingga harus diusahakan agar kondisi dalam kandang serasi bagi kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi pakan akan menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, sehingga mengakibatkan gangguan produksi. Temperatur lingkungan di usaha peternakan babi Duroc sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh  tentang temperature lingkungan yang ideal untuk ternak babi  (Sihombing, 2006).

4.3.      Pakan
Pakan yang digunakan untuk setiap tahapan pemeliharaan ternak babi sangat berbeda-beda, tergantung pada fase hidup ternak yaitu: starter, grower, finisher, breeding ( babi bibit ), dan laktasi ( menyusui ). Pakan babi muda adalah pakan jadi B1 CP 550, pakan komplit butirat ( prestarter or creep feed ) pakan ini diberikan khusus untuk anak babi dengan usia 2 – 4 minggu. Pemberian pakan ini dengan tujuan untuk pengenalan pakan pada anak babi.
Creep feeding adalah cara pemberian makanan pada anak babi terpisah dari makanan induknya. Creep feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka dalam bentuk pellet atau butir – butiran ( Williamson and Payne, 1993 ). Anak babi yang berusia 1 bulan masih menyusui, disamping menyusui anak babi juga mengonsumsi pakan. Pemberian pakan untuk babi fase prestarter sudah sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh Williamson and Payne, (1993) yaitu pemberian menggunakan Creep feeding (Pakan komplit butirat). Setelah 1 bulan pemberian pakan B1 CP 550 anak babi akan disapih dan pakannya juga diganti B2 CP 551, pakan komplit butirat ( Starter ) dan B1 CP 550.
Pakan pada babi Starter dicampur dengan pakan Prestarter, dengan tujuan untuk mengganti pakan secara perlahan. Pakan konsentrat yang digunakan dicampur dengan dedak padi, tepung jagung, katul, gromel, mineral dan kebi. Bahan yang digunakan untuk ransum starter haruslah bahan yang benar-benar berkualitas bagus dan yang sifatnya Palatable ( disukai) suplemen zat besi sulfat disamping itu antibiotik juga diberikan didalam ransum starter untuk pencegahan penyakit serta merangsang laju pertumbuhan ( Blakely and Bade 1991). Karena pada periode Starter tinggkat konsumsi pakan sangat tinggi dan diberikan pada kelompok babi strarter secara ad libitum.
Setelah melewati masa starter babi akan dipindahkan pada kandang Grower, pakannya juga diganti dengan profit track concentrate yang dicampur dengan bahan pakan berupa : Tepung jagung, ampok, katul, gromel, bungkil kelapa, mineral. Konsentrat dan bahan pakan ini dicampur dengan menggunakan mesin pencombor pakan yang berkapasitas 1 ton dan pemberiannya secara ad libitum.
Setelah melewati masa grower babi dipindahkan pada kandang finisher. Pada fase finisher pemberian pakannya dibatasi, lebih untuk penggemukan dan finishing. Pakan untuk babi finisher adalah profit track concentrate yang dicampur dengan dedak padi, tepung jagung, ampok, katul, bungkil kelapa, mineral. Semua bahan pakan ini dicampur atau dicombor lalu diberikan pada babi finisher. Pakan yang diberikan pada ternak haruslah pakan yang mampu memenuhi hidup pokok dan produksi.  Pakan untuk induk menyusui atau bunting adalah PRO-SG dicampur dengan bahan pakan berupa tepung jagung, ampok, katul, grommel,  mineral, susu skim. Konsentrat dan bahan pakan ini dicombor dengan menggunakan mesin yang berkapasitas 1 ton lalu siap diberikan pada ternak yang bunting atau menyusui, pemberiannya secara terbatas.
Tempat pakan starter dan grower berbentuk kotak panjang yang atasnya diberi batas dengan menggunakan besi melengkung yang di las pada bagian atasnya dengan jarak kurang lebih 50 cm. Cara ini agar tidak ada babi yang kalah dalam berkompotisi merebut makanan pada kandang kelompok dan juga babi tidak masuk atau menginjak pakan yang ada di dalamnya. Terbuat dari semen dengan beratnya kurang lebih 50 kg.
Tempat pakan untuk babi pejantan, menyusui dan bunting berbentuk persegi dengan ukuran 40cm x 40 cm. Tempat minum berupa keran atau sering disebut spindel yang kalau disentuh pentilnya maka air akan keluar, pada kandang prestarter jumlah spindel ada 2, untuk induk dan babi kecil. Spindel pada starter dan grower ada 3 atau 4. Sedangkan pada finisher, breed, dan bunting hanya 1 saja, karena merupakan kandang individu. Lampu untuk penyinaran pada malam hari dan juga untuk penghangat pada anak babi yang baru lahir maupun yang sudah menyusui. Ada juga terpal panjang yang digunakan sebagai dinding kandang agar terhindar dari terpaan angin dan hujan, terpal ini biasanya dipasang pada kandang starter- gower dan dipakai pada sore menjelang malam.

4.4       Pemberian Pakan dan Minum
            Pemberian pakan pada ternak babi ada dua cara yaitu dengan cara ad libutum pada tahap prestarter, starter, dan grower. Serta pakan terbatas pada finisher, breeding, dan laktasi. Pemberiannya pada pagi pukul 09:00 dan sore hari pukul 04:00. Pemberian pakan semacam ini agar tidak terjadi pemborosan pakan. Pemberian pakan kering mengurangi pakan yang tumpah atau tercecer.
Pemberian pakan secara ad libitum pada kelompok ternak babi fase starter dan grower, ini dengan tujuan agar memacu babi untuk saling berkompetisi merebut makanan. Pada tahapan ini pakan babi harus diperhatikan karena berpengaruh pada pertumbuhan babi. Sedangkan pada finisher, breeding, dan laktasi atau menyusui pemberianya terbatas, bukan artinya tidak diberi makanan, tetapi porsi pemberiannya dibatasi. Sedangkan pemberian minumnya secara ad libitum, kapan saja babi ingin minum. Karena pemberiannya menggunakan keran air atau spindel. Menurut Sihombing, (2006) disetiap petak kandang harus tersedia tempat pakan setara dengan lantai berbentuk permanen atau temporer, dan air minum harus selalu tersedia dalam bak air atau pentil air minum ( water nipple ) otomatis.
Tabel 3. Jumlah Pakan yang diberikan di lokasi PKL

Prestarter

Ad libitum


Starter

Ad libitum

Grower

Ad libitum

Finisher

Terbatas       (3kg/hr/ekor)

Breed



Terbatas        (4kg/hr/ekor)

Laktasi

Terbatas         (4kg/hr/ekor)

            Pakan yang diberikan pada ternak prestarter, starter, dan grower, adalah secara ad libitum, dan sesering mungkin, pemberiannya pagi, siang dan sore hari.                                                                 Pakan pada ternak finisher,breed dan laktasi pemberiannya menggunakan kaleng yang berukuran 1 kg, dan pemberiannya pagi dan sore hari sesuai dengan kebutuhan ternak babi
Cara pemberian pakan menggunakan kaleng. Kapasitas kaleng tersebut bila dikonversikan kira-kira sebesar 1 kg.  Setiap pemberian pakan dengan menggunakan kaleng dapat dikonversikan dengan berapa banyak pakan yang diberikan pada babi. Jadi apa bila diberikan dua kaleng artinya 2 kg yang diberikan. Berdasarkan teori yang ada pemberian pakan di lokasi PKL telah sesuai dengan kebutuhan ternak babi.
4.5       Recording Ternak
Recording yang dilakukan di lokasi PKL berfungsi untuk mengidentifikasi ternak babi, agar proses pemeliharaan dapat berjalan sesuai dengan fase-fase dan pemeliharaan. Pencatatan yang sistematis harus dilakukan. Pada kandang babi dilengkapi dengan papan recording. Hal-hal yang dicatat pada papan recording tertera pada Tabel 5.
Tabel 4. Papan recording di lokasi PKL
Hari 1
Kawin
Hari 21
Kontrol jadi/tidak
70
Makanan ditambah
100
Makanan BA
114
Siap lahir
2
Zat besi 1
5
Bay cox/cecok
14
Belajar makan, kastrasi
15
Vaksin mikoplasma
17
Zat besi II
21
Vaksin kolera
30
Sapih

Recording juga bertujuan untuk mempermudah peternak melaksanakan seleksi dan culling ternak. Seleksi ternak dapat dilakukan dengan cara memilih individu di dalam sekelompok ternak untuk dijadikan induk atau pejantan untuk generasi ternak berikutnya dapat. Pada tempat Praktek Kerja Lapangan sering menggunakan cara seleksi culling atau penyingkiran ternak.
Culling berarti mengeluarkan ternak babi dari kelompok atau kawanan ternak yang tidak diinginkan. Culling yang dilakukan di lokasi PKL terhadap babi adalah babi yang lemah, babi yang gagal tumbuh, babi yang cacat fisik, induk yang kurang produktif, babi yang sudah tua. Untuk induk yang akan diafkirkan biasanya diberi tanda berupa cat dengan tanda silang pada punggung ternak tersebut. Culling harus terus dilakukan pada ternak, agar dapat mempertahankan keunggulan dari ternak babi tersebut.

4.6.      Sanitasi Dan Kesehatan Ternak
Sanitasi ternak berhubungan dengan kondisi kebersihan kandang serta ternak itu sendiri. Pada lokasi PKL, kandang  dan ternak dibersihkan setiap hari yaitu pagi pukul 08:00 dan sore pukul 03:00. Pemberian pakan pada pagi hari pukul 09:00 dan sore hari pukul 04:00. Kebersihan kandang pada lokasi PKL, masih belum memenuhi syarat, hal ini disebabkan oleh cara membersihkan kandang menggunakan selang air dan menyemprot saja pada kandang dan ternak tanpa menggosok sehingga kotoran masih tertinggal pada kandang juga ternak. Hal ini dapat menyebabkan ternak terserang penyakit diare.
Produksi yang optimal serta mencapai tujuan ekonomi, maka kesehatan ternak harus diperhatikan sebaik mungkin. Di lokasi PKL,  penyakit diare sangat umum terjadi dalam kehidupan anak babi (genjik) 2 minggu pertama.
Menurut  Sihombing (2006), Anti bodi dalam kolostrum induk sangat membantu pencegahan problem mencret pada anak babi. Program pencegahan penyakit ini perlu diperhatikan terutama mengenai sanitasinya.
Dalam upaya menjaga kesehatan babi perlu dilakukan sanitasi kandang dan peralatan, vaksinasi secara teratur, menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan semprot serta perlakuan yang menunjang kesehatan ternak. Sebelum babi masuk kandang, terlebih dahulu kandang harus disemprot dengan selang air, untuk memutus siklus hidup bakteri.
 Pada lokasi PKL belum efektif, karena pada saat ternak baru masuk kandang tidak dibersihkan terlebih dahulu sehingga dapat memungkinkan menjadi sumber penyakit di lokasi usaha, sedangkan vaksinasi dilakukan dua kali yaitu vaksin mikoplasma pada umur 15 hari dan vaksin kolera pada umur 21 hari. Perlakuan yang menunjang kesehatan antara lain penyuntikan zat besi pada umur 2 hari dan 17 hari.
Keadaan kandang harus dijaga bersih, kering, dan suhunya diatur agar anak babi dan induknya dapat hidup nyaman. Dengan demikian faktor sanitasi sangat berpengaruh pada usaha peternakan disamping faktor pakan. Selain penyakit diare di lokasi PKL juga sering terjadi penyakit anemia yang menyerang anak babi yang pra sapih dengan gejala-gejala yang muncul seperti lemas, pucat, nafsu makan menurun karena kekurangan zat besi. Menurut pendapat Williamson and Payne, (1993), bahwa anak babi dilahirkan dengan persediaan zat besi yang rendah pada tubuhnya  sedangkan susu induk tidak cukup kandungan fe-nya untuk memenuhi kebutuhan anak. Anak babi yang mengalami anemia terlihat pucat pada daerah telinga dan perut, lesu, pernapasannya cepat dan sering mencret. Dalam penanggulangan penyakit anemia ini, peternak memberikan injeksi, pada anak babi 1 bulan sebanyak tiga kali, masing-masing umur 2 hari, 17 hari, dan 1 bulan. Setelah pemberian obat anak babi diberikan tanda cat merah pada punggung.
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati dan mencegah penyakit pada ternak babi di lokasi PKL tertera pada Tabel 6.      
Tabel 5. Penggunaan Obat pada lokasi Praktek Lerja Lapangan (PKL)

No
Nama obat
Penyakit
Cara pemberian
1
Colibacth
Diare
Intramuscular
2
Oksitetraciline
Diare kuning merah(bahaya)
Intramuscular
3
Injectamin
Lemas
Intramuscular
4
Vetoxy
Luka kastrasi/inveksi
Oles

Panisilin
Setelah kastrasi
Intramuscular
5
Tayucin
Luka
Oles
6
Feredex
Anemia/zat besi
Intramuscular
7
B komleks, B12
Nafsu makan
Intramuscular
8
Roxine
Sesak nafas
Intramuscular
9
Reykod
Luka parah
Kutu
Oles pada luka
Semprot
Apabila terjadi infeksi setelah kastrasi, injeksi panicilin 1 cc untuk prestater. Jantan setiap 2 minggu disuntik vitamin. Solfant 100 % untuk steril spoit. Reykod jangan sampai ditelan babi, bisa berakibat kematian

4.7       Kastrasi ( Pengebirian )
Kastrasi adalah melakukan pemotongan dan mematikan sel-sel jantan terhadap babi jantan. Pada lokasi praktek kerja lapangan (PKL), pelaksanaan kastrasi bertujuan untuk dapat mempercepat pertumbuhan dari ternak babi itu sendiri. Kastrasi dilakukan pada babi yang masih berusia 2 minggu. Anak babi jantan yang tidak dipakai bibit biasanya dikastrasi karena akan mengurangi pengelolaan dan mencegah perkawinan yang tidak diinginkan. Kastrasi dilakukan dengan cara terbuka, melalui pembedahan, memotong atau memutuskan saluran menuju testis.
Setelah kastrasi dilakukan, dilanjutkan dengan pengobatan menggunakan vitoxin dengan cara oles pada luka. Pengebirian pada anak babi tidak dijahit karena penyembuhannya lebih cepat, sedangkan pada babi dewasa, sebelum memotong fas deveren terlebih dahulu diikat saluran yang menuju testis agar darah tidak mengalir keluar, dan dijahit untuk mempercepat proses penyembuhan. Namun yang sering dilakukan adalah pada babi kecil. Sehari dapat melakukan kastrasi kurang lebih 100 ekor anak babi. Makin muda dikastrasi makin gampang pelaksanaanya dan dilakukan biasanya 7 – 10 hari sebelum penyapihan. Hal ini akan membuat babi sudah sembuh pada waktu disapih (Williamson and Payne, 1993).                        

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan  Praktek Kerja Lapang  ini bahwa manajemen pemeliharaan ternak babi di usaha peternakan milik Bapak Yudi  dilakukan sudah cukup baik, meliputi: perkandangan, pemberian pakan dan minum, recording, serta kastrasi. Namun dalam hal sanitasi dan kesehatan ternak masih diperlukan penanganan yang lebih baik.

Saran
Dari hasil analisa dan evaluasi mengenai manajemen pemeliharaan ternak babi pedaging milik Bapak Yudi yang sudah baik  perlu dipertahankan. Usaha yang disarankan antara lain sebagai berikut :
1)              Seharusnya penggunaan disinfektan di lakukan pada kandang dan peralatan sebelum ternak masuk pada kandang baru, hal ini bertujuan untuk memutus siklus hidup dari bakteri. Sedangkan cara membersihkan kandang sebaiknya dengan menggunakan sikat atau alat penggosok agar kandang dan ternak lebih bersih.
2)              Peralatan medis seharusnya diperhatikan agar lebih baik lagi dalam penanganan babi yang sakit dan setiap pengunjung yang datang seharusnya tidak mendekat pada ternak, untuk mencegah penyebaran virus
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2011.  Persaratan mutu pakahttp://www.ditjennak.go.id/regulasi%5CSNI%20PAKAN%20BABI%20 PEMBESARAN.pdf. 02-04-2011
Angga, 2010. Sistem Pencatatan
Perdana angga.wordpress.com/.../rekording-ternak-sistem-pencatatan
Anderson, 2000. Data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan penelitian dan .... recording

Aritonang,1993. peternakan99.blogspot.com/.../pengaruh-pemberian-ransum-yang.ht...

Blakely. H, Bade,1991. Ilmu Peternakan,Gajah Mada University Press.Yogyakarta
Bundy dan Diggins,1968.  repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/.../Bab%20II%201987ips.pdf

Evans, R.J. 1918. History of the Duroc. James j. Doty Pub., com
Parwati, I.A.,  I. M.R. Yasa, S. Guntoro, N. Suyasa, K. Saka, dan M. Sumartini.
             2000. Laporan Akhir Pengkajian Sistem Usaha Ternak Babi Potong.
Siregar, 2000 eprints.undip.ac.id/16161/1/ADIKA_PUTRA.pdf
Sinaga. S, 2009. Archive for the 'Ternak Babi' Category. http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/?cat=1.08-06-2011
Sinaga.S, 2009.Bangsa Dan Reproduksi Babi  http://blogs.unpad.ac.id/Sauland                  Sinaga   /?p=23.16-06-2011
kandang-babi-2/. 08-06-2011
Sinaga.S, 2011. Produksi Babi, http://blogs.unpad.ac.id/saulandsinaga/category/penyakit-babi/.  06-06-2011
    Sinaga.S, 2011. Kebutuhan Nutrisi danBabi                                                                              http://blogs.unpad.ac.id/saulandsinaga/.08-06-2011
Sihombing DTH. 2006. Ilmu Ternak Babi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sihombing,  1997 Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Prees.
Souland, 2010. id.scribd.com/doc/60429212/Hang-Out-Jakarta-June-2011-Issue-03

Williamson dan Payne, 1965. ml.scribd.com/doc/55791928/cahaya

Williamson, G and Payne, W.J.A. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Terjemahan   dari: An Introduction to Animal Husbandry in The Tropics Third Edition. Gadjah Mada University Press.
Please wait...










 












Description: E:\my photo\PHOTO PKL DI KEPANJEN\PHOTO PKL\112_PANA\P1120173.JPG
Gambar 2. Tipe kandang induk menyusui
Description: P1110997
Gambar 3. Tipe kandang individu pada babi finisher
Description: E:\my photo\PHOTO PKL DI KEPANJEN\PHOTO PKL\112_PANA\P1120750.JPG
 Gambar 4. Tempat pakan untuk babi starter dan grower

Description: E:\my photo\PHOTO PKL DI KEPANJEN\PHOTO PKL\P1120461.JPG
Gambar 5. Spindel / keran untuk minum pada ternak babi
Description: E:\my photo\PHOTO PKL DI KEPANJEN\PHOTO PKL\112_PANA\P1120024.JPG
Gambar 6. Pencampuran Pakan untuk ternak babi Duroc
Description: P1120334
Gambar 7. Pemberian obat-obatan pada ternak babi

Description: 12072011(003)
Gambar 8. Recording














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wam yabu eruwok kinaonak

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar Belakang Ternak babi merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup potensial untuk di...