BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ternak
babi merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup potensial untuk
dikembangkan. Berdasarkan data peternakan tahun 2010, populasi ternak babi terdapat
di Provinsi Nusa Tenggara Timur 1,637,351ekor, Bali (930,465 ekor), Sumatera
Utara (734,222 ekor), Sulawesi Selatan (549,083 ekor), Kalimantan Barat
(484,299 ekor), Papua (546,696 ekor), Sulawesi Utara (332 ,942 ekor). Dengan
data ini ketersediaan akan daging di Indonesia masih sangat rendah, sehingga
dipenuhi dengan cara impor.
Diharapkan dengan manajemen pemeliharaan
ternak babi yang baik bisa menopang kebutuhan akan ketersediaan daging. Menurut
Parwati (2000), Kebutuhan akan protein hewani masyarakat di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan yang bersumber dari protein hewani,
sehingga usaha ternak babi mempunyai peranan yang cukup besar dalam mensuplai
kebutuhan daging walaupun dengan keterbatasan konsumen serta dapat mendorong
semakin potensialnya peternakan babi di Indonesia (Anonimus, 2003).
Babi Duroc
memiliki sifat prolifik, yakni banyak anak dalam satu kali kelahiran. Jumlah
anak yang dilahirkan berkisar antara 8 – 14 ekor dalam satu kelahiran dengan
rata – rata 2 kali kelahiran per tahun. Babi dara dapat dikawinkan pada umur 8
bulan, beranak pada umur 1 tahun dan anak – anaknya dapat mencapai berat ± 100
kg pada umur 5 – 6 bulan bila dipelihara pada keadaan sehat ( Anonimus, 2011). Keberhasilan suatu usaha peternakan dapat dipengaruhi oleh
faktor bibit dan manajemen pemeliharaan ternak. Faktor bibit yaitu bangsa
ternak itu sendiri sedangkan faktor manajemen pemeliharaan meliputi : pemberian pakan dan minum, kandang, sanitasi dan
kesehatan ternak,
recording, serta kastrasi.
Pakan
ternak merupakan salah satu faktor penting dalam usaha ternak babi. Manajemen
pemberian pakan pada babi periode starter dan grower harus benar-benar
diperhatikan karena pada usia ini ternak babi mengalami pertumbuhan yang pesat.
Oleh karena itu suatu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa walaupun
babi itu secara alamiah tergolong hewan yang makannya sangat rakus, dan suka
makan apapun, namun mereka perlu diberi makanan dengan perhitungan yang betul.
Sehingga apabila pemeliharaannya baik, laju pertumbuhannya pun akan baik pula.
Kandang
yang baik adalah kandang yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi hewan ternak yang
ada di dalamnya. Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak
babi tergolong hewan berdarah panas atau Homeoterm,
yakni mekanisme fisiologisnya selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan
internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok baginya
(Sihombing,
2006).
Pada dasarnya, kandang dan peralatan harus menyenangkan dan melindungi ternak
babi. Lagi pula kandang dan peralatan yang disediakan harus seefisien mungkin
menggunakan tenaga dan waktu pemeliharaan untuk memberi makan, membersihkan dan
kegiatan lain memelihara ternak.
Sanitasi
harus dilakukan terhadap kandang dan peralatan selama pemeliharaan, selain itu
sanitasi dapat dilakukan dengan menggunakan disinfektan, dengan cara
menyemprotkan bahan-bahan kimia sesuai dengan sasarannya. Apalagi yang baru datang, sebelum ternak dimasukan kedalam
kandang yang pernah dipakai, sebaiknya didisinfeksi lebih dahulu untuk
meminimalkan kemungkinan penyakit. Terlebih induk yang akan melahirkan, kandang
untuk melahirkan harus didisinfeksi sebelun induk yang akan melahirkan
dimasukan dalam kandang, sehingga bebas dari telur-telur cacing dan mikroba berbahaya
lainnya (Sihombing,
2006). Kandang dijaga tetap kering dan selalu
dibersihkan dari kotoran, sehingga memberi kenyamanan bagi ternak (Williamson
and Payne, 1993).
Recording pada ternak babi
juga sangat dibutuhkan, dengan tujuan untuk menentukan jumlah pakan yang
harus diberikan pada masing-masing babi dan juga babi mudah mununjang program
seleksi. Kegunaan recording ini tidak hanya untuk mengetahui berapa besar
produksi anak yang dihasilkan dari seekor ternak baik kuantitatif maupun
kualitatif, tetapi juga untuk mengetahui kelompok babi mana yang mempunyai mutu
genetik baik. Anak babi jantan yang tidak dipakai bibit biasanya
dikastrasi oleh karena akan mengurangi pengelolaan dan mencegah perkawinan yang
tidak diinginkan. Kastrasi akan mengurangi konversi makan pada babi. Makin
mudah dikastrasi makin gampang pelaksanaanya dan dilakukan biasanya 7 – 10 hari
sebelum penyapihan. Hal ini akan membuat babi sudah sembuh pada waktu disapih
(Williamson dan Payne, 1993).
1.2 Rumusan
Masalah
Masalah
dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan (PKL) ini adalah bagaimana manajemen
pemeliharaan ternak babi Duroc milik
Bapak Yudi agar mendapat hasil yang optimal. Manajemen pemeliharaan tersebut
meliputi kandang, pakan, sanitasi dan kesehatan ternak, kasratasi dan recording
pada Usaha Peternakan di Desa
Cepokomulyo Kecamatan
Kepanjen Kabupaten Malang.
1.3 Tujuan
Pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan ini, bertujuan untuk mengetahui manajemen pemeliharaan ternak
babi Duroc pada usaha peternakan babi Duroc di Desa Cepokomulyo Kecamatan
Kepanjen Kabupaten Malang.
1.4 Manfaat
Hasil praktek kerja lapangan (PKL) ini diharapakan
dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi peternak maupun yang ingin
mengembangkan usaha dalam
peternak dalam hal manajemen pemeliharaan ternak babi, menjadi sarana untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa tentang manajemen
pemeliharaan ternak babi Duroc.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Bangsa
Duroc
Bangsa babi Duroc
berasal dari bagian Barat laut Amerika Serikat dari galur babi merah yang
dikembangkan di New York dan New Jersey.
Babi yang di New Jersey aslinya disebut babi Jersey Reds; babi yang di New York
konon dikembangkan oleh seseorang yang memiliki kuda terkenal bernama Duroc, dan penduduk sekitarnya menyebut
babi merah atau Duroc. Setelah
beberapa tahun peternak tersendiri, babi-babi tersebut dicampur-baur dan
mengakibatkan bangsa babi yang hingga belum lama ini dikenal dengan Duroc-Yersey. Kini bangsa babi tersebut dikenal sebagai Duroc. Babi
unggul yang berasal dari luar negeri tersebut antara lain American Landrace,
Duroc, Berksjire, Poland China, dan Yorhshire Sus verrucosus (Evans,
1918).
Bangsa
babi Duroc warnanya merah mulus tanpa
ada campuran lain. Namun beberapa
diantaranya merah gelap dan beberapa ada juga merah muda. Bangsa babi ini
terkenal tubuhnya padat dan prolifik. Dapat di lihat pada gambar 1.
Klasifikasi ternak babi adalah
sebagai berikut (Banerjee, 1985) :
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordota
Kelas
: Mamalia
Ordo
: Artiodactyla
Famili
: Suidae
Genus
: Sus Linn
Spesies
: Sus scofaferus

Gambar1. Babi Duroc
(Sihombing, 1997)
Babi siap potong berbobot 90 kg dapat
dicapai pada usia 6 bulan
atau lebih. Babi dibagi menjadi tiga
fase, yaitu fase starter, babi umur 13 sampai 20 minggu dengan berat badan 15
sampai 35 kg, fase grower, yaitu babi yang berumur 20 sampai 28 minggu dengan
berat badan 35 kg sampai 60 kg dan fase finisher, babi umur 24 sampai 36 minggu
dengan berat badan 60 kg sampai 90 kg (Souland, 2009),
babi jantan dewasa berbobot sekitar 275-320 kg. Dalam beberapa hal, bobot yang
lebih tinggi dapat dicapai yaitu dengan
pemberian pakan yang teratur dan bernilai gizi tinggi. Babi Duroc merupakan jenis babi yang unggul,
karena jumlah kelahirannya sangat tinggi. Babi Duroc sekali beranak kira-kira 8-12 ekor anak yang dilahirkan dan
juga pertumbuhan babi Duroc ini
sangat cepat. Produksi daging tinggi dan tebal dengan kandungan lemak sedikit (Sihombing, 2006).
2.2 Sistem Perkandangan
Kandang merupakan salah satu unsur penting
dalam suatu usaha peternakan, terutama dalam ternak babi. Bangunan kandang yang
baik harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan
kandang diupayakan pertama-tama untuk melindungi babi terhadap gangguan dari
luar yang merugikan, baik dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan
tiupan angin kencang. Selain itu, kandang juga harus bisa menunjang peternak
dalam melakukan kegiatannya, baik dari segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam
pelayanan. Kandang berfungsi sebagai lokasi tempat pemberian pakan dan minum.
Dengan adanya kandang, diharapkan babi tidak berkeliaran di sembarang tempat,
mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien
mungkin. Sebab hanya kandang yang baiklah yang akan mampu: meningkatkan koversi
makanan; meningkatkan pertumbuhan dan menjamin kesehatan ternak (Anonimus,
1981).
Jenis
kandang terdiri dari jenis kandang tunggal dan ganda, jenis kandang tunggal adalah: Kandang yang terdiri satu
baris memanjang yang dipetak-petak. Jenis kandang ganda adalah : Kandang yang terdiri
dari dua baris yang letaknya saling
berhadapan atau mempunyai jalan ditengah untuk dapat memberikan pelayanan dan
perawatan terhadap ternak babi (Souland, 2010).
Ukuran dan tipe kandang bervariasi sesuai dengan kebutuhan ternak dan tujuan
pemeliharaan. Berikut merupakan uraian dari ukuran dan tipe kandang. Ukuran
kandang ternak babi panjang, lebar, dan tinggi adalah :
1)
Kandang pejantan ukurannya 3 m x 3 m x 1,75m, lantai dan dindingnya terbuat dari campuran semen, pasir dan batu bata, merupakan kandang
individu.
2)
Kandang babi dara ukurannya 3m x3m x 1m,
terbuat dari campuran
semen, pasir dan batu bata, merupakan
kandang kelompok.
3)
Kandang induk bunting ukurannya 1m x 2m
x 1m, terbuat dari campuran
semen, pasir dan batu bata, merupakan
kandang individu.
4)
Kandang
induk menyusui ukurannya 1,5 m x 2 m x 1m, kandangnya terbuat dari batang besi
yang di las dengan alas besi, kandangnya menyerupai keranda dan terbagi dalam 3
sekatan, tengah untuk induk sedangkan yang pinggir untuk anaknya, agar bebas
bergerak dan terhindar dari tindihan atau injakan induk.
5)
Kandang sapih atau starter 3m x 3m x 1m,
kandangnya
ada yang terbuat dari coran semen, ada
juga yang terbuat dari batang
besi beton yang di las
menyerupai panggung, merupakan kandang kelompok.
6)
Kandang grower 3m x 3m x 1m, lantai dan dindingnya terbuat dari campuran semen, pasir, dan batu bata, merupakan
kandang kelompok.
7)
Kandang finisher 1m x 50 cm x 50cm, rancangan kandangnya terbuat dari bilah-bilah besi yang menyerupai
keranda dan alas lantai
yang dibuat miring, dan merupakan kandang individu
8)
Kandang babi induk bunting (yang akan
beranak); kandang ini berukuran 3 x 2 m.
Ternak
babi tergolong hewan berdarah panas atau homeoterm, yaitu mekanisme fisiologisnya
selalu berusaha mempertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi
lingkungan eksternal yang cocok baginya. Kandang harus memenuhi tuntutan
biologis ternak babi. Ternak Babi juga merupakan ternak yang membutuhkan tempat
untuk berlindung. Tempat atau kandang untuk peternakan Babi harus dibuat
senyaman mungkin. Apabila manusia juga sudah merasa nyaman dikandang peternakan
Babi yang telah dibuat maka bisa dipastikan bahwa ternak babi juga pasti akan
merasa nyaman didalam kandang tersebut. Mengapa kandang harus dibuat senyaman
mungkin adalah agar produksinya bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh
peternak. Hal ini
mungkin juga akan mengubah tingkah laku ternak, yang selanjutnya berpengaruh
terhadap produksi, reproduksi maupun kesehatan ternak (Sihombing,
2006).
Kandang dibangun dengan arah timur barat, dengan tujuan agar kandang terkena sinar matahari pada pagi dan sore hari. Bahan
pembuatan kandang yaitu dengan menggunakan campuran pasir, batu bata, dan
semen, sedangkan atap terbuat dari genteng dan asbes bergelombang.
Lantai kandang dikenal 2 tipe lantai, yaitu 1. lantai polos (solid floor)
atau plesteran dan 2. lantai berbilah (slotted
floor) yang terbuat dari batangan-batangan coran, aluminium, logam
berlubang-lubang fiberglas atau plastik. Umumnya dinding kandang atau batas petak kandang babi di
daerah tropis berkisar 90-110 cm, kecuali kandang babi pejantan dan karantina
atau babi sakit perlu setinggi 125 cm, sedangkan dinding kandang babi sapihan
cukup 75 cm, dan batas pemisah kandang cukup 50 cm ( Sihombing, 2006).
Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia
lebih sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropics atau daerah
beriklim dingin. Suhu di Indonesia 27,2° C, namun suhu di berbagai daerah
berbeda, tergantung dari letak geografis, ketinggian tempat, kelandaian, sinar,
angin, hujan, dan kelembaban.Suhu atau temperature lingkungan mikro harus
dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara
dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi
kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan
kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi makanan
biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan
tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut mengakibatkan
gangguan produksi. Suhu lingkungan yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan babi
berbeda. Temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan
mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone
termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26° C (Sihombing, 2006).
2.3
Pakan
Pakan merupakan salah
satu faktor penting di dalam usaha ternak babi. Secara alamiah babi rakus
makan, bahkan apapun, hampir tidak ada yang ditolak. Peternak yang baik harus
dapat menyajikan pakan yang tepat, karena dengan pemberian pakan yang baik akan
mempercepat pertumbuhan. Pakan yang baik, tepat atau memenuhi syarat adalah
sangat penting; akan tetapi untuk menyusun ransum semacam ini tentu saja
relatif lebih mahal. Bahkan kadang-kadang bisa mencapai 80% dari seluruh
pembiayaan. Oleh karena itu di dalam hal ini kita harus ulet, bagaimana kita
bisa memberikan pakan dengan bahan-bahan yang mengandung zat-zat yang diperlukan, yang terdapat di lingkungan
di mana kita beternak, dan secara ekonomis masih menguntungkan.
Mengingat bahwa sistim alat
pencernaan babi sederhana, bukan seperti
binatang memamah biak, maka babi tidak boleh diberi pakan yang kandungan serat kasarnya banyak,
sehingga tidak bisa dicerna. Oleh karena itu pakan pokok babi adalah pakan
penguat. Pakan penguat yang bisa
diberikan kepada babi antara lain adalah: bekatul, bungkil kelapa, ampas tahu,
tepung ikan, dls. Bahan-bahan tersebut harus mengandung zat-zat atau
unsur-unsur yang diperlukan babi (Blakely and Bade, 1991).
Pemberian
pakan yang semestinya merupakan hal yang sangat penting sebab biaya pakan
menduduki tempat tertinggi dari ongkos produksi total yang kadang – kadang
meliputi 80%, ini disebabkan babi tumbuh sangat cepat dan konsekuensinya
keperluan akan pakan sangat tinggi. Anak babi yang beratnya 1,4 kg pada waktu
lahir mencapai 163 kg setelah 18 bulan kemudian. Bila babi diberi pakan
berlebihan maka cenderung menjadi gemuk dengan cepat dan sifat ini adalah
menurun, hal ini juga tidak ekonomis ( Williamson, 1993 ).
Creep feeding
adalah cara pemberian makanan pada anak babi terpisah dari makanan induknya. Creep
feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka
dalam bentuk pellet atau butir – butiran. Anak babi yang berusia 1 bulan masih menyusui, disamping
menyusui anak babi juga mengonsumsi pakan. Pemberian pakan untuk
babi fase prestarter sudah sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh
yaitu pemberian menggunakan Creep feeding (Pakan komplit butirat). Setelah 1 bulan pemberian pakan B1 CP 550 anak babi akan
disapih dan pakannya juga diganti B2 CP 551, pakan komplit butirat ( Starter ) dan B1 CP 550.
Creep feeds
hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka dalam bentuk pellet
atau butir – butiran. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. (Williamson
and Payne, (1993)
Tabel 1.
Zat-zat yang terkandung di dalam bahan makanan
Bahan makanan
|
Air
%
|
Protein kasar
%
|
Lemak kasar%
|
Serat kasar
%
|
Ca
%
|
P
%
|
Hindrat arang
%
|
Kaya protein
Tepung ikan
|
8,5
|
53,3
|
6,5
|
1,5
|
10,5
|
5
|
49
|
Susu skim (powder)
|
8
|
33
|
1
|
0
|
1,3
|
0,9
|
68
|
Bungkil kedelai
|
9,5
|
48,5
|
1
|
6,5
|
0,4
|
0,7
|
69
|
Bungkil kelapa
|
9
|
19,5
|
7,5
|
13
|
0,2
|
0,5
|
73
|
Biji-bijian
Jagung jagung
|
12
|
8,5
|
4,5
|
3
|
0,05
|
0,3
|
80
|
Jagun
putih
|
11,5
|
9
|
4,5
|
2
|
0,1
|
0,3
|
81
|
Katul no. 1
|
10
|
13,5
|
16,5
|
7
|
0,15
|
1,9
|
60
|
Katul no. 2
|
9,5
|
8
|
6
|
20,
|
0,25
|
1,9
|
29
|
Lain- lain
Tepung daun
lamtoro
Tepung kerang
Gula
|
8,5
-
-
|
19,5
-
-
|
3
-
-
|
11
-
-
|
1,9
24,5
-
|
0,2
-
-
|
45
-
76
|
( Anonimus, 2011 )
Tabel 2. Jenis dan keperluan pakan berbagai fase
babi
Keterangan
|
Starter %
|
Grower %
|
Fattening %
|
Lactasi
|
Bibit
|
1. Jagung
|
35 – 60
|
25 - 60
|
25 -60
|
20 - 50
|
15 – 40
|
2. Katul
|
-
|
0 - 10
|
0 - 25
|
10 - 15
|
0 – 15
|
3. Tepung ikan
|
5 – 10
|
5 - 20
|
-
|
5 -10
|
2 – 10
|
4. Dedak gandum
|
-
|
5 - 10
|
0 - 15
|
10 - 25
|
10 - 30
|
5. Susu skim (Powder)
|
0 – 20
|
-
|
-
|
-
|
-
|
6. Tepung tulang
|
-
|
0 - 5
|
2 - 7
|
0 -5
|
0 – 5
|
7. Bungkil kedelai
|
5 – 15
|
2 - 10
|
2 - 5
|
5 - 10
|
2 – 7
|
8. Bungkil kelapa
|
-
|
0 -3
|
2 - 7
|
0 - 7
|
0 – 7
|
9. Tepung daun lamtoro
|
0 – 3
|
5
|
5
|
5
|
5
|
10. Mellase
|
0 – 3
|
5
|
5
|
5
|
5
|
11. Mineral
|
1
|
1,5
|
1,5
|
1,5
|
1,5
|
12. Gula
|
0 – 10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
13. Vitamin
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
14. Antibiotic
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Protein kasar
|
19
|
16
|
14,5
|
18,5
|
14,5
|
Serat kasar
|
4
|
6
|
6
|
7
|
8,5
|
( Anonimus, 2011 )
2.4 Recording
Ternak
Recording adalah
pencatatan yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipercaya serta
selalu aktual tiap hari. Dalam usaha peternakan banyak sekali komponen
recording yang harus mendapat perhatian
antara lain : jumlah populasi, jumlah pemberian pakan, jumlah produksi harian
yang dihasilkan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat kematian
(mortalitas) ternak yang dipelihara, penyakit yang menyerang, riwayat kesehatan
(medical record), obat yang dibutuhkan, serta vaksinasi yang dibutuhkan lainnya.
Intinya semakin banyak pencatatan yang dilakukan akan semakin baik manajemen
usaha yang di jalankan (Angga, 2010).
Kegunaan recording :
1. Mengetahui jumlah populasi akhir. Ini perlu karena bagaimanapun letak
keuntungan ditentukan oleh jumlah populasi akhir. Dengan diketahuinya papulasi
akhir kita juga akan mengetahui jumlah ternak yang mati, hilang dan sebagainya
selama masa pemeliharaan.
2.
Untuk bahan pertimbangan dalam penilaian
tata laksana yang sedang dilaksanakan.
Seperti tingkat pertambahan berat badan (PBB), Feed Consumtion Rate (FCR),
jumlah produksi, kesehatan ternak.
3.
Mempermudah peternak melakukan evaluasi,
mengontrol dan memprediksi tingkat keberhasilan usaha
4.
Bagi perguruan tinggi data recording
bisa sebagai bahan penelitian (Anderson, 2000)
2.5 Sanitasi Dan Kesehatan Ternak
Dalam suatu usaha
peternakan babi, kembersihan kesehatan dan pengendalian penyakit tidak dapat
diabaikan dan faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha
ternak tersebut. Pada usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan pembersihan
kandang dan penanganan limbah. Menurut Seregar (2000), kebersihan kandang harus
selalu dijaga, kotoran babi harus dibuang pada tempat yang telah disediakan.
Genangan-genangan air dalam kandang harus dikeringkan dan diupayakan tidak ada
lalat atau serangga lainnya yang dapat menganggu babi dalam kandang.
Sanitasi
adalah suatu kegiatan yang meliputi kebersihan kandang dan lingkungannya,
karena dengan keadaan kandang serta lingkungan yang bersih, kesehatan ternak maupun
pemiliknya akan terjamin. Kebersihan kandang bisa diatur sesuai dengan
kebutuhan sehingga lingkungan tidak bau dan lembab (Anonimus, 1991).
Sanitasi dan kesehatan ternak merupakan
suatu faktor yang perlu diperhatikan. Penyakit juga dapat mengakibatkan kematian pada ternak apabila tidak
ditangani dengan serius. Keadaan kandang harus dijaga bersih, kering,
dan suhunya diatur agar anak babi dan induknya nyaman. Sanitasi dapat dilakukan dengan cara menjaga
kebersihan kandang, peralatan dan ternak serta tidak menggunakan disinfektan untuk menyucihamakan
kandang dan perlatan
terhadap babi maupun kandangnya. Terhadap ternak babi kita harus memandikan babi
setiap hari 1-2 kali sehari. Sebab bila kulit babi kotor, yakni akibat andanya
kotoran dari luar (debu, kotoran sendiri) yang melekat pada kulit,
lama-kelamaan menjadi daki yang bisa menutup pori-pori. Sehingga kulit tidak
bisa mengatur panas tubuh dan daki menjadi tempat yang digemari oleh
bermacam-macam bakteri dan paransit, sehingga menimbulkan perasaan gatal.
Karena gatal, kulit digosok-gosokan sehingga terjadi luka penyakit kulit.
Mamandikan babi berarti memelihara kulit atau kesehatan babi secara baik.
Dengan demikian memandikan dan membersihkan kandang mutlak dilakukan (Aritonang, 1993 ).
Kandang harus selalu
dibersihkan dinding digosok atau disemprot dengan disinfektan secara periodik
agar kotoran atau debu-debu yang melekat dan kuman-kuman beserta parasit yang
berserang di dalamnya bisa bersih dan tak akan menganggu penghuni kandang babi
(Williamson and Payne, 1993).
Pencegahan penyakit
pada babi Duroc dapat dilakukan dengan cara vaksinasi dan sanitasi.
Vaksin dilakukan dengan tujuan memberikan kekebalan pada tubuh ternak babi dari
serangan penyakit. Pencegahan penyakit pada ternak babi melalui program
vaksinasi harus mendapat perhatian dan prioritas utama, kelengahan vaksinasi
dapat berakibat fatal, ternak babi dapat terserang penyakit tertentu yang
mungkin sulit untuk diatasi. Periode yang sangat perlu diperhatikan sehubungan dengan kepadatan anak
babi adalah saat kritis pada umur minggu pertama dan minggu kedua hilangnya
anti bodi dari induk. Karena itu peternak harus waspada dan siap memberikan
pertolongan bila penyakit datang menyerang (Anonimus, 1980).
2.6 Kastrasi (Pengebirian)
Kastrasi
ialah melakukan pemotongan testes dan mematikan sel-sel jantan untuk memperoleh
pertumbuhan yang cepat dan kualitas daging yang baik, maka semua babi jantan
harus dikstrasi. Biasanya kastrasi ini dilakukan pada saat babi berumur 4
minggu. Kastrasi yang dilakukan lebih awal akan lebih baik daripada babi yang
besar, karena babi yang besar akan mengalami stress yang berat (Williamson and Payne, 1993)
Tujuan kastrasi yaitu:
1.
Untuk mempertahankan kualitas daging. Sebab babi yang
dikastrasi dagingnya akan lebih bagus, dan penimbunan daging dan lemaknya lebih
cepat.
2.
Agar pejantan
yang tidak dipergunakan lagi untuk bibit atau pemacek, dagingnya tidak berbau.
3.
Untuk
menghindari babi jantan yang berkualitas jelek mengawini calon-calon babi induk
yang bagus.
4.
Untuk menjinakkan babi jantan yang mempunyai sifat buas
atau kanibalis (Williamson and Payne, 1993)
Kastrasi dilakukan dengan
dua cara yaitu: cara
tertutup dan cara terbuka (Bundy and Diggins,
1968)
1. Kastrasi
dengan cara tertutup yaitu pengebirian dengan cara mengikat (menutup) saluran
yang menuju testes, sehingga sel-sel jantan mati, karena tidak memperoleh
zat-zat makanan. Hal ini dapat pula dilakukan dengan jalan memberi zat kimia
yang bisa mematikan sel jantan atau betina dengan jalan injeksi.
2. Kastrasi
dengan cara terbuka yaitu dengan jelas melakukan pembedahan scrotum dan
mengeluarkan testes yang kemudian dipotong.
Cara melakukan kastrasi pada anak babi jantan (Williamson and Payne, 1965)
Pelaksanaan pengembirian pada
babi jantan sebagai berikut:
1. Scrotum ditekan dengan ibu jari kiri ke atas
dan telunjuk ke bawah dengan maksud supaya mudah dibedah dengan pisau tajam
atau dengan silet.
2. Kedua : kantong (selaput) testes yang berwarna
putih dipotong atau dibedah, guna mengeluarkan testesnya. Kemudian bila testes
itu ditekan maka keluarlah testes tersebut.
3. Ketiga : testes yang sudah keluar dipotong
pada saluran penggantungnya. Bagi babi dewasa, sebelum saluran testes dipotong,
terlebih dahulu diikat dengan benang yang kuat supaya darah tidak mengalir ke
luar.
4. Keempat : bekas luka harus diobati dengan
yodium, atau sulfanilamide guna mencegah infeksi atau tetanus.
5. Untuk
mencegah dan mempercepat sembuhnya luka akibat bekas potongan tersebut
sebaiknya dijahit, terkecuali babi yang berumur 4 – 5 minggu tidak
dijahit ( Sinaga, 2010).
BAB III
MATERI DAN
METODE
3.1 Waktu Dan Lokasi kegiatan
Pelaksanaan Praktek
Kerja Lapanagan (PKL) dimulai 2 Februari sampai 1 Maret 2012 pada usaha
peternakan babi Duroc di Desa
Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.
3.2 Khalayak
Sasaran
Khalayak
sasaran pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah usaha peternakan babi Duroc milik Bapak Yudi di Desa
Cepokomulyo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dengan populasi babi 3000 ekor.
3.3 Materi
Materi pada Praktek Kerja Lapang ini adalah 3000 ekor
babi Duroc periode starter sampai finisher,
peralatan yang digunakan meliputi tempat
pakan, tempat minum, penghangat, selang air, dan papan recording.
3.4 Metode
Metode yang
dilaksanakan pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah:
observasi dengan melakukan
pengamatan langsung di lokasi PKL, serta melakukan wawancara dengan peternak
ataupun dengan karyawan tentang perkandangan pemberian pakan dan minum, ,sanitasi dan kesehatan, kastrasi, dan recording.
3.5 Analisis Hasil Kegiatan
Parameter
yang diamati adalah manajemen pemeliharaan ternak babi Duroc
yang meliputi : Perkandangan, pemberian pakan dan minum, sanitasi dan kesehatan, recording dan kastrasi.
BAB
IV
HASIL
DAN EVALUASI KEGIATAN
4.1 Gambaran
Umum Peternakan
Pada
mulanya peternakan babi Duroc ini
adalah milik Bapak Yudi yang dimulai pada tahun 1975. Peternakan ini bukan
diawali dengan usaha sampingan, tetapi memang sudah ada perencanaan. Pada awal
pemeliharaan ternak babi berjumlah 100 ekor, namun seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
budaya, maka menuntut kebutuhan hidup yang lebih besar. Seiring dengan
berjalannya waktu usaha peternakan ini semakin maju.
Setelah beberapa tahun
berjalan Bapak Yudi mengalami kebangkrutan, karena adanya flu babi yang begitu
meluas di seluruh dunia. Mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat untuk membeli babi dari tempat ini.
Kemudian usaha peternakan ini diteruskan oleh salah satu kerabatnya (Bapak
Yudi), dengan cara membantu
menginvestasikan modal dari
hasil dari usaha itu, sehingga mampu membawa kemajuan yang baik pada usaha
peternakan ini.
Peternakan babi Duroc ini merupakan usaha babi pedaging
yang khusus untuk memproduksi daging. Peternakan ini berlokasi di Desa
Cepokomulyo Kecamatan
Kepanjen Kabupaten Malang dengan luas areal 2 hektar. Peternakan milik Bapak
Yudi terletak di dataran tinggi
dan dikelilingi oleh sawah dan tanaman hortikultural. Jumlah populasi ternak babi kurang
lebih 3000 ekor, masing-masing
terdiri dari 150 ekor jantan dan 300 ekor betina, dan sisanya 1550 ekor terdiri dari prestarter sampai finisher
serta ternak yang masih dalam kandang karantina.
Selain memproduksi daging yang baik, ternak babi juga mempunyai hasil
ikutan berupa kotoran yang dapat diolah menjadi kompos sehingga tidak mencemari
lingkungan sekitar dan dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanah dan tanaman.
Lokasi perkandangan dibangun dekat jalan raya namun bukan jalan utama sehingga suasana disekitar
tidak terlalu ramai atau bising, memudahkan dalam hal transportasi dan babi
lebih tenang terhindar dari stres. Sesuai dengan teori yang dipelajari maka daerah
ini cocok untuk usaha peternakan babi, hal ini dilihat dari usaha peternakan
yang strategis dan mudah dalam
pemeliharaan.
4.2 Sistem Kandang
Kandang pada lokasi Praktek Kerja Lapangan diantaranya
kandang saling berhadapan, saling membelakangi dan kandang searah. Kandang saling
berhadapan merupakan kandang yang dibangun dengan satu jalan pada tengah
kandang dan dua saluran pembuangan. Kandang saling membelakangi merupakan
kandang yang dibangun dengan dua jalan dan satu saluran pembuangan. Kandang
searah merupakan kandang yang dibangun dengan satu jalan dan satu
pembuangan. Sistem kandang yang di
terapkan pada lokasi PKL, sesuai dengan pendapat (Souland, 2010) yaitu membangun kandang tunggal dan ganda agar mempermudah dalam pelayanan dan perawatan.
Usaha ternak yang akan
menghasilkan anak babi serta pengemukan (yakni usaha mulai dari menghasilkan
anak sampai dipasarkan), satu system siklus
hidup dianjurkan terutama untuk suatu usaha proyek berskala besar. Untuk
hal ini harus direncanakan kandang dan peralatan yang memenuhi kebutuhan ternak
untuk berbagai fase siklus hidup ternak. Perkandangan yang cocok dengan system
peternakan seperti ini terdiri dari 5 fase hidup ternak babi yang diuraikan
berikut ini.
1.
Unit
kandang babi bibit (Breeding).
Kandang ini diperuntukkan bagi induk kering-susu dan induk bunting, pejantan
dan calon induk dan pejantan.
2.
Unit
kandang babi sapihan (Weaning). Unit
kandang ini disediakan bagi pengasuhan anak babi sapihan hingga mencapai umur
10-12 minggu.
3.
Unit
kandang pertumbuhan (Growing). Unit
kandang ini disediakan bagi babi setelah keluar dari unit kandang pengasuhan
untuk selama 6-8 minggu berikutnya.
4.
Unit
kandang pengakhiran (finishing).unit
kandang ini diperuntungkan setelah dari unit pertumbuhan hingga mencapai berat.
Tidak jarang dipersatukan unit pembesaran dengan unit pengakhiran.
5.
Unit
kandang induk melahirkan (Farrowing).
Unit kandang ini disediakan untuk induk melahirkan dan mengasuh anak hingga anak babi disapih.
Untuk usaha ternak babi dari menghasilkan anak hingga
dipasarkan skla kecil disarankan mendirikan system 2-unit kandang. Kandang
tersebut adalah satu unit pusat bibit yang menampung semua induk dengan
pelbagai fase reproduksi (misalnya fase kering susu, bunting, melahirkan dan
menyusukan anak), pejantan dan calon bibit; dan satu unit pembesaran dengan
pengakhiran bagi anak babi lepas sapih, pembesaran dan pengakhiran.
Menurut kegunaannya, kandang babi bisa dibangun sesuai
dengan fase hidup babi dan tujuannya dimana babi hendak ditempatkan, dengan ukuran
dan perlengkapan yang berbeda-beda.
a. Kandang babi induk bunting (yang
akan beranak); kandang ini berukuran 3 x 2 m.
b. Kandang untuk starter dengan ukura panjang
2 m
dan lebar 2,5 m.
c. Kandang babi penjantan kandang ini
berukuran sama dengan babi induk bunting: 3 x 2 m, dan lebih kuat
d.
Kandang babi grower
kandang ini berukuran 3 x 2, 5 m, yang bisa menampung babi 6 ekor; berarti setiap ekor
babi memerlukan ±1 m2 .kandang ini lebih sederhana daripada yang diperuntukan
babi induk.
e. Kandang ini setiap ruang tidak akan diisi
lebih dari 12-15 ekor babi.
Kandang
babi karantina, yakni untuk mengisolir babi-babi yang menderita, terlebih-lebih
penyakit menular, ukurannya 3m x 3m.
Pada ukuran kandang induk bunting di lokasi PKL, belum sesuai dengan
teori menurut yang mengatakan bahwa Babi-babi yang sedang bunting perlu diberi
ruang gerak. Sebab babi yang jarang
bergerak, badannya terlampau gemuk. Hal ini akan mengakibatkan peredaran darah
kurang lancar, sehingga menimbulkan kesulitan di dalam melahirkan dan anak yang
dilahirkan menjadi lemah. Sedangkan ukuran kandang pada babi finisher dibuat sempit, dengan tujuan
agar babi cepat gemuk.
Lantai pada setiap kandang dibuat miring, dengan tujuan agar kotoran mudah
mengalir saat dibersihkan. Atap pada setiap kandang terbuat dari genteng dan
asbes bergelombang, karena lebih tahan lama. Saluran pembuangan pada sertiap
kandang disatukan pada satu tempat pembuangan
terakhir yang merupakan tempat pembuatan kompos (Anonimus, 2010).
Temperatur lingkungan
usaha peternakan
di lokasi berkisar 26°C – 32°C dengan kelembaban udara berkisar 70 – 80%. Temperatur yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik
di lingkungan zone termonetral, yakni berkisar antara 20-26°C). Sehingga
harus diusahakan agar kondisi dalam kandang serasi bagi kehidupan atau
kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas
evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi pakan akan menurun,
konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku
mungkin berubah, sehingga mengakibatkan gangguan produksi. Temperatur
lingkungan di usaha peternakan
babi Duroc sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh tentang temperature lingkungan yang ideal untuk
ternak babi (Sihombing, 2006).
4.3. Pakan
Pakan yang digunakan
untuk setiap tahapan pemeliharaan ternak babi sangat berbeda-beda, tergantung
pada fase hidup ternak yaitu: starter,
grower, finisher, breeding ( babi bibit ), dan laktasi ( menyusui ). Pakan babi muda adalah pakan jadi B1 CP 550,
pakan komplit butirat ( prestarter or
creep feed ) pakan ini diberikan
khusus untuk anak babi dengan usia 2 – 4 minggu. Pemberian pakan ini dengan
tujuan untuk pengenalan pakan pada anak babi.
Creep feeding
adalah cara pemberian makanan pada anak babi terpisah dari makanan induknya. Creep
feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka
dalam bentuk pellet atau butir – butiran ( Williamson and Payne, 1993 ). Anak babi yang berusia 1 bulan masih menyusui, disamping
menyusui anak babi juga mengonsumsi pakan. Pemberian pakan untuk
babi fase prestarter sudah sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh
Williamson and Payne, (1993) yaitu pemberian menggunakan Creep feeding
(Pakan komplit butirat).
Setelah 1 bulan pemberian pakan B1 CP 550 anak babi akan disapih dan pakannya
juga diganti B2 CP 551, pakan komplit butirat ( Starter ) dan B1 CP 550.
Pakan pada babi Starter dicampur
dengan pakan Prestarter, dengan
tujuan untuk mengganti pakan secara perlahan. Pakan konsentrat yang digunakan
dicampur dengan dedak padi, tepung jagung, katul, gromel, mineral
dan kebi. Bahan yang digunakan
untuk ransum starter haruslah bahan
yang benar-benar berkualitas bagus dan yang sifatnya Palatable ( disukai) suplemen
zat besi sulfat disamping itu antibiotik
juga diberikan didalam ransum starter untuk pencegahan penyakit serta
merangsang laju pertumbuhan ( Blakely and Bade 1991). Karena pada periode Starter
tinggkat konsumsi pakan sangat tinggi dan diberikan pada kelompok babi strarter secara ad libitum.
Setelah
melewati masa starter babi akan dipindahkan
pada kandang Grower,
pakannya juga diganti dengan profit track
concentrate yang dicampur
dengan bahan pakan berupa : Tepung jagung, ampok, katul, gromel, bungkil kelapa,
mineral. Konsentrat dan bahan pakan ini dicampur dengan menggunakan mesin
pencombor pakan yang berkapasitas 1 ton dan pemberiannya
secara ad libitum.
Setelah melewati masa grower babi dipindahkan pada kandang finisher. Pada fase finisher pemberian pakannya dibatasi, lebih untuk penggemukan dan finishing. Pakan untuk babi finisher
adalah profit track
concentrate yang dicampur
dengan dedak padi, tepung jagung, ampok, katul, bungkil kelapa, mineral. Semua
bahan pakan ini dicampur atau dicombor lalu diberikan pada babi finisher. Pakan yang diberikan pada
ternak haruslah pakan yang mampu memenuhi hidup pokok dan produksi. Pakan untuk induk menyusui atau bunting
adalah PRO-SG dicampur dengan bahan pakan berupa tepung jagung, ampok, katul, grommel, mineral, susu skim. Konsentrat dan bahan
pakan ini dicombor dengan menggunakan mesin yang berkapasitas 1 ton lalu siap
diberikan pada ternak yang bunting atau menyusui, pemberiannya secara terbatas.
Tempat
pakan starter dan grower
berbentuk kotak panjang yang atasnya
diberi batas dengan menggunakan besi melengkung yang di las pada bagian atasnya
dengan jarak kurang lebih 50 cm. Cara ini agar tidak ada babi yang kalah dalam
berkompotisi merebut makanan pada kandang kelompok dan juga babi tidak masuk
atau menginjak pakan yang ada di dalamnya. Terbuat dari semen dengan beratnya kurang lebih 50 kg.
Tempat pakan untuk babi pejantan, menyusui dan bunting
berbentuk persegi dengan ukuran 40cm x 40 cm. Tempat minum
berupa keran atau sering disebut spindel
yang kalau disentuh pentilnya
maka air akan keluar, pada kandang
prestarter jumlah spindel ada 2, untuk induk dan babi kecil. Spindel pada starter dan grower ada 3 atau 4. Sedangkan pada finisher, breed, dan
bunting hanya 1 saja, karena merupakan kandang individu. Lampu
untuk penyinaran pada malam hari dan juga untuk penghangat pada anak babi yang baru lahir maupun yang sudah menyusui.
Ada juga terpal panjang yang
digunakan sebagai dinding kandang agar terhindar dari terpaan angin dan hujan,
terpal ini biasanya dipasang pada kandang starter-
gower dan dipakai pada sore menjelang malam.
4.4 Pemberian
Pakan
dan Minum
Pemberian
pakan pada ternak babi ada dua cara yaitu dengan cara ad libutum pada tahap prestarter,
starter, dan grower.
Serta pakan terbatas pada finisher, breeding, dan laktasi. Pemberiannya pada pagi pukul 09:00 dan sore hari pukul 04:00. Pemberian pakan
semacam ini agar tidak terjadi pemborosan pakan. Pemberian pakan kering
mengurangi pakan yang tumpah atau tercecer.
Pemberian
pakan secara ad libitum
pada kelompok ternak babi fase
starter dan grower, ini
dengan tujuan agar memacu babi untuk saling berkompetisi merebut makanan. Pada tahapan ini
pakan babi harus diperhatikan karena berpengaruh pada pertumbuhan babi.
Sedangkan pada finisher,
breeding, dan laktasi atau menyusui pemberianya terbatas, bukan artinya tidak
diberi makanan, tetapi porsi pemberiannya dibatasi. Sedangkan pemberian minumnya
secara ad libitum, kapan saja babi
ingin minum. Karena pemberiannya menggunakan keran air atau spindel. Menurut Sihombing, (2006) disetiap petak kandang harus tersedia tempat pakan setara dengan lantai berbentuk permanen atau temporer, dan air minum harus selalu
tersedia dalam bak air atau pentil air minum ( water nipple ) otomatis.
Tabel 3. Jumlah Pakan yang diberikan di lokasi PKL
Prestarter
|
Ad libitum
|
Starter
|
Ad libitum
|
Grower
|
Ad libitum
|
Finisher
|
Terbatas (3kg/hr/ekor)
|
Breed
|
Terbatas (4kg/hr/ekor)
|
Laktasi
|
Terbatas (4kg/hr/ekor)
|
Pakan yang diberikan pada ternak prestarter, starter, dan grower, adalah secara ad
libitum, dan sesering mungkin, pemberiannya pagi, siang dan sore
hari.
Pakan pada ternak finisher,breed dan laktasi pemberiannya menggunakan kaleng yang berukuran 1 kg, dan pemberiannya pagi
dan sore hari sesuai dengan kebutuhan ternak babi
Cara pemberian pakan menggunakan kaleng. Kapasitas kaleng tersebut bila
dikonversikan kira-kira sebesar 1 kg. Setiap
pemberian pakan
dengan menggunakan kaleng dapat dikonversikan
dengan berapa banyak pakan yang
diberikan pada babi. Jadi apa bila diberikan dua kaleng artinya 2 kg yang
diberikan. Berdasarkan teori yang ada pemberian pakan di
lokasi PKL telah sesuai dengan kebutuhan ternak babi.
4.5 Recording Ternak
Recording yang dilakukan di lokasi PKL berfungsi untuk mengidentifikasi ternak babi, agar proses pemeliharaan dapat berjalan sesuai dengan fase-fase
dan pemeliharaan. Pencatatan yang sistematis harus dilakukan. Pada kandang
babi dilengkapi dengan papan recording. Hal-hal yang dicatat pada papan
recording tertera pada Tabel 5.
Tabel
4. Papan recording di
lokasi PKL
Hari 1
|
Kawin
|
Hari 21
|
Kontrol jadi/tidak
|
70
|
Makanan ditambah
|
100
|
Makanan BA
|
114
|
Siap lahir
|
2
|
Zat besi 1
|
5
|
Bay cox/cecok
|
14
|
Belajar makan, kastrasi
|
15
|
Vaksin mikoplasma
|
17
|
Zat besi II
|
21
|
Vaksin kolera
|
30
|
Sapih
|
Recording juga
bertujuan untuk mempermudah peternak melaksanakan seleksi dan culling ternak. Seleksi ternak dapat dilakukan dengan cara memilih individu di
dalam sekelompok ternak untuk dijadikan induk atau pejantan untuk generasi
ternak berikutnya dapat. Pada tempat Praktek Kerja Lapangan sering menggunakan cara seleksi culling atau penyingkiran ternak.
Culling
berarti
mengeluarkan ternak babi dari kelompok atau kawanan ternak yang tidak
diinginkan. Culling yang dilakukan di
lokasi PKL terhadap babi adalah babi yang lemah, babi yang gagal tumbuh, babi
yang cacat fisik, induk yang kurang produktif, babi yang sudah tua. Untuk induk yang akan diafkirkan biasanya diberi tanda
berupa cat dengan tanda silang pada punggung ternak tersebut.
Culling
harus terus dilakukan pada ternak, agar dapat mempertahankan keunggulan dari
ternak babi tersebut.
4.6. Sanitasi
Dan Kesehatan Ternak
Sanitasi
ternak berhubungan dengan kondisi kebersihan kandang serta ternak itu sendiri. Pada lokasi PKL, kandang dan ternak dibersihkan
setiap hari yaitu pagi pukul 08:00
dan sore pukul 03:00. Pemberian pakan pada pagi hari pukul 09:00 dan sore hari
pukul 04:00. Kebersihan kandang pada lokasi PKL, masih belum
memenuhi syarat, hal ini disebabkan oleh cara membersihkan kandang menggunakan
selang air dan menyemprot saja pada kandang dan ternak tanpa menggosok sehingga
kotoran masih tertinggal pada kandang juga ternak. Hal ini dapat menyebabkan
ternak terserang penyakit diare.
Produksi
yang optimal serta mencapai tujuan ekonomi, maka kesehatan ternak harus
diperhatikan sebaik mungkin. Di lokasi PKL, penyakit diare sangat umum terjadi dalam kehidupan anak babi (genjik) 2 minggu
pertama.
Menurut Sihombing (2006), Anti bodi dalam kolostrum induk sangat membantu
pencegahan problem mencret pada anak babi. Program pencegahan penyakit ini perlu diperhatikan
terutama mengenai sanitasinya.
Dalam upaya menjaga kesehatan babi perlu dilakukan
sanitasi kandang dan peralatan, vaksinasi secara teratur, menjaga kebersihan
kandang dengan menggunakan semprot serta perlakuan yang menunjang kesehatan ternak.
Sebelum babi masuk kandang, terlebih
dahulu kandang harus disemprot dengan selang air, untuk memutus siklus hidup
bakteri.
Pada lokasi PKL belum efektif, karena pada
saat ternak baru masuk kandang tidak dibersihkan terlebih dahulu sehingga dapat
memungkinkan menjadi sumber penyakit di lokasi usaha, sedangkan vaksinasi dilakukan dua kali yaitu vaksin
mikoplasma pada umur 15 hari dan vaksin kolera pada umur 21 hari. Perlakuan
yang menunjang kesehatan antara lain penyuntikan zat besi pada umur 2 hari dan
17 hari.
Keadaan kandang harus dijaga bersih, kering, dan suhunya diatur agar anak
babi dan induknya dapat hidup nyaman. Dengan demikian faktor sanitasi
sangat berpengaruh pada usaha peternakan disamping faktor pakan.
Selain penyakit diare di lokasi PKL juga sering terjadi
penyakit anemia yang menyerang anak babi yang pra sapih dengan gejala-gejala
yang muncul seperti lemas, pucat, nafsu makan menurun karena kekurangan zat
besi. Menurut pendapat Williamson and Payne, (1993), bahwa anak babi dilahirkan dengan persediaan zat besi yang rendah
pada tubuhnya sedangkan susu induk tidak
cukup kandungan fe-nya untuk memenuhi kebutuhan anak. Anak babi yang mengalami
anemia terlihat pucat pada daerah telinga dan perut, lesu, pernapasannya cepat
dan sering mencret. Dalam penanggulangan penyakit anemia ini, peternak
memberikan injeksi, pada
anak babi 1 bulan sebanyak tiga kali, masing-masing umur 2 hari, 17 hari, dan 1
bulan. Setelah
pemberian obat anak babi diberikan tanda cat
merah pada punggung.
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati dan mencegah
penyakit pada ternak babi di lokasi PKL tertera pada Tabel 6.
Tabel 5. Penggunaan Obat
pada lokasi Praktek Lerja Lapangan (PKL)
No
|
Nama obat
|
Penyakit
|
Cara pemberian
|
1
|
Colibacth
|
Diare
|
Intramuscular
|
2
|
Oksitetraciline
|
Diare kuning
merah(bahaya)
|
Intramuscular
|
3
|
Injectamin
|
Lemas
|
Intramuscular
|
4
|
Vetoxy
|
Luka
kastrasi/inveksi
|
Oles
|
Panisilin
|
Setelah
kastrasi
|
Intramuscular
|
|
5
|
Tayucin
|
Luka
|
Oles
|
6
|
Feredex
|
Anemia/zat
besi
|
Intramuscular
|
7
|
B komleks,
B12
|
Nafsu makan
|
Intramuscular
|
8
|
Roxine
|
Sesak nafas
|
Intramuscular
|
9
|
Reykod
|
Luka parah
Kutu
|
Oles pada
luka
Semprot
|
Apabila terjadi infeksi setelah
kastrasi, injeksi panicilin 1 cc untuk prestater. Jantan setiap 2 minggu
disuntik vitamin. Solfant 100 % untuk steril spoit. Reykod jangan sampai
ditelan babi, bisa berakibat kematian
4.7 Kastrasi
( Pengebirian )
Kastrasi
adalah melakukan pemotongan dan mematikan sel-sel jantan terhadap babi jantan. Pada lokasi praktek kerja lapangan
(PKL), pelaksanaan kastrasi bertujuan untuk dapat mempercepat pertumbuhan dari
ternak babi itu sendiri. Kastrasi dilakukan pada babi yang masih berusia 2
minggu. Anak babi jantan yang tidak
dipakai bibit biasanya dikastrasi karena akan mengurangi pengelolaan dan
mencegah perkawinan yang tidak diinginkan. Kastrasi dilakukan
dengan cara terbuka, melalui pembedahan, memotong atau memutuskan saluran menuju testis.
Setelah
kastrasi dilakukan, dilanjutkan dengan pengobatan menggunakan vitoxin dengan
cara oles pada luka. Pengebirian pada anak babi tidak dijahit karena
penyembuhannya lebih cepat, sedangkan pada babi dewasa, sebelum memotong fas deveren terlebih dahulu diikat
saluran yang menuju testis agar darah tidak mengalir keluar, dan dijahit untuk
mempercepat proses penyembuhan. Namun yang sering dilakukan adalah pada babi
kecil. Sehari dapat melakukan kastrasi kurang lebih 100 ekor anak babi. Makin
muda dikastrasi makin gampang pelaksanaanya dan dilakukan biasanya 7 – 10 hari
sebelum penyapihan. Hal ini akan membuat babi sudah sembuh pada waktu disapih
(Williamson and Payne,
1993).
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang
diperoleh dari pelaksanaan Praktek Kerja
Lapang ini bahwa manajemen pemeliharaan
ternak babi di usaha peternakan milik Bapak Yudi
dilakukan sudah cukup baik, meliputi: perkandangan, pemberian pakan dan
minum, recording, serta kastrasi. Namun dalam hal
sanitasi dan kesehatan ternak masih diperlukan penanganan yang lebih baik.
Saran
Dari hasil analisa dan
evaluasi mengenai manajemen
pemeliharaan ternak babi pedaging milik
Bapak Yudi yang sudah baik perlu dipertahankan. Usaha yang disarankan
antara lain sebagai berikut :
1)
Seharusnya penggunaan disinfektan di
lakukan pada kandang dan peralatan sebelum ternak masuk pada kandang baru, hal
ini bertujuan untuk memutus siklus hidup dari bakteri. Sedangkan cara membersihkan
kandang sebaiknya dengan menggunakan sikat atau alat penggosok agar kandang dan
ternak lebih bersih.
2)
Peralatan medis seharusnya diperhatikan
agar lebih baik lagi dalam
penanganan babi yang sakit dan setiap pengunjung yang datang seharusnya tidak mendekat pada ternak, untuk mencegah
penyebaran virus
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimus,2011. http://www.ditjennak.go.id/regulasi%5CSNI%20PAKAN%20 BABI%20PEN GGEMUKAN.pdf.
12-04-2011
Anonimus, 2011. Persaratan mutu pakahttp://www.ditjennak.go.id/regulasi%5CSNI%20PAKAN%20BABI%20
PEMBESARAN.pdf. 02-04-2011
Angga,
2010. Sistem Pencatatan
Perdana angga.wordpress.com/.../rekording-ternak-sistem-pencatatan
Anderson, 2000. Data/informasi yang dapat
dipergunakan sebagai bahan penelitian dan .... recording
Aritonang,1993. peternakan99.blogspot.com/.../pengaruh-pemberian-ransum-yang.ht...
Blakely. H, Bade,1991. Ilmu Peternakan,Gajah
Mada University Press.Yogyakarta
Banerjee,1985.http://www.google.co.id/search?q=babi%20dipelihara%20dengan% 20keadaan%20sehat%20souland%202009
Bundy dan Diggins,1968.
repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/.../Bab%20II%201987ips.pdf
Evans, R.J. 1918. History of the Duroc. James j. Doty Pub., com
Parwati,
I.A., I. M.R. Yasa, S. Guntoro, N.
Suyasa, K. Saka, dan M. Sumartini.
2000. Laporan Akhir Pengkajian
Sistem Usaha Ternak Babi Potong.
Siregar,
2000
eprints.undip.ac.id/16161/1/ADIKA_PUTRA.pdf
Sinaga. S, 2009. Archive for the 'Ternak Babi' Category. http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/?cat=1.08-06-2011
kandang-babi-2/.
08-06-2011
Sinaga.S, 2011. Produksi Babi, http://blogs.unpad.ac.id/saulandsinaga/category/penyakit-babi/. 06-06-2011
Sihombing
DTH. 2006. Ilmu Ternak Babi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sihombing, 1997 Sihombing,
D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Prees.
Souland, 2010. id.scribd.com/doc/60429212/Hang-Out-Jakarta-June-2011-Issue-03
Williamson dan Payne, 1965. ml.scribd.com/doc/55791928/cahaya
Williamson, G and
Payne, W.J.A. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Terjemahan dari: An Introduction to Animal Husbandry
in The Tropics Third Edition. Gadjah Mada University Press.
|
|

Gambar 2. Tipe kandang induk menyusui

Gambar 3. Tipe kandang individu pada babi finisher

Gambar 4. Tempat pakan untuk babi starter dan
grower

Gambar 5.
Spindel / keran untuk minum pada ternak babi

Gambar 6.
Pencampuran Pakan untuk ternak babi Duroc

Gambar 7. Pemberian obat-obatan pada ternak babi

Gambar 8. Recording
Tidak ada komentar:
Posting Komentar